HARI-HARI TERAKHIR CHE GUEVARA

Che Guevara

Judul: Hari-hari Terakhir Che Guevara (edisi terjemahan dari buku asli berjudul “The Diary of Che Guevara — Bolivia: November 7, 1966 – October 7, 1967”, 185 halaman).

Editor: Robert Scheer dengan kata pengantar dari Fidel Castro.

Penerbit: Narasi, Jogjakarta, 2006.

Review: Siapa tak kenal tokoh kondang satu ini? Namanya begitu bergema hingga saat ini dan langkahnya kerap menjadi inspirasi banyak pihak, khususnya kalangan muda.

“The revolution is not an apple that falls when it is ripe. You have to make it fall,”  begitu salah satu kutipan darinya.

Seperti inilah Che Guevara dalam sejarah: ia penulis, ia dokter dan tentu saja, ia revolusioner sejati dalam kelompok gerilyawan di rimba Bolivia.

Dan buku ini adalah catatan harian miliknya, yang salinannya jatuh ke tangan CIA, Pentagon dan pemerintah Amerika Serikat.

Fidel Castro, dalam bagian pendahuluan, bilang begini, “Che adalah seorang pemimpin yang fraternal dan manusiawi, yang juga tahu bagaimana secara tepat dan kadangkala bersikap keras. Tapi di atas segalanya, dan bahkan lebih dari yang lain, dia keras terhadap dirinya sendiri. Che mendasarkan disiplin gerilya pada kesadaran moral dan pada kekuatan yang dahsyat…”

Biar lebih jelas, berikut beberapa cuplikan kompilasi catatan pribadi tokoh ini:

7 November

“Sebuah tahap baru dimulai hari ini. Kami tiba di tanah pertanian itu pada malam hari. Perjalanan berlangsung amat lancar. Setelah menyamar seperlunya, Cochabamba, Pachungo dan aku, melakukan kontak-kontak penting dan menempuh perjalanan dengan mengendarai dua jeep selama dua jam.

Saat mendekati tanah pertanian, kami berhenti dan hanya satu kendaraan yang tetap mendekat sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pemilik tanah di dekatnya yang telah menyebar kabar burung bahwa usaha kami berkaitan dengan kokain. Aneh kedengarannya…”

8 November

“Kami menghabiskan waktu seharian di daerah yang berhutan lebat dekat sungai kecil, kira-kira 100 meter dari perumahan. Kami diserang oleh sekawanan bebek pohon yang tidak mematuk tapi sungguh amat menganggu.”

2 Desember

“Kami menghabiskan hari ini dengan mengobrol. Chino akan pergi ke Kuba dan melaporkan situasi secara langsung. Dalam waktu dua bulan, lima orang Peru akan dapat bergabung dengan kami, itulah saatnya operasi dimulai…”

7 Desember

“Miguel dan Apolinar menentukan tempat yang tepat dan mulai membangun terowongan; sayang peralatan tidak memadai. Inti dan Urbano kembali dengan tangan kosong, tetapi malamnya Urbano membawa pulang seekor kalkun yang dia tembak dengan M-1. Tapi karena kita sudah makan, kalkun ditunda untuk sarapan besok pagi…”

Poinnya, di balik kepemimpinan yang ditunjukkan Che, ia tetap manusia biasa: bisa gelisah plus takut ketika satu per satu teman seperjuangannya gugur. Ia juga bisa khawatir penyakit paru-parunya kambuh!

Pendek kata, ini buku bagus. Layak jadi koleksi Anda kan?

Harga: Rp. 35.000,- di luar ongkos kirim.

Persediaan terbatas.

beli

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s