MENCARI SUPRIYADI: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno

Mencari Supriyadi

Judul: Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno, plus VCD, 232 halaman.

Penulis: Baskara T. Wardaya, SJ.

Penerbit: Galangpress, Jogjakarta, 2008.

Review: Ada rangkaian misteri dalam sejarah nasional hingga hari ini:

Shodancho Supriyadi menghilang selepas memimpin pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar pada Februari, 1945.

– Yang aneh, saat pembentukan kabinet pertama pada 6 Oktober 1945, Bung Karno menunjuk bekas komandan pleton itu sebagai Menteri Keamanan Rakyat.

– Lebih aneh lagi, pada 20 Oktober 1945 Supriyadi kembali diberikan mandat selaku Panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Bagaimana mungkin seseorang yang tak diketahui rimbanya menduduki dua jabatan kunci di pemerintahan yang baru seumur jagung?

Hmm… Bung Karno kelihatannya tahu sesuatu soal ini…

Berdasarkan hasil investigasi penulis buku, coba kita lacak perkara ini, sodara-sodara!

Pertama, mungkinkah Supriyadi beralih identitas demi melepaskan dirinya dari buronan penjajah Jepang kala itu?

Jawabnya datang dari seorang laki-laki uzur asal Pedurungan, Semarang: “Saya sendiri yang mencari nama dan ketemulah itu ‘Andaryoko’, yang artinya tempat menerangkan kejujuran…”

Kedua, ada pernyataan: “Saya memberanikan diri matur dan nyuwun pamit kepada Bung Karno untuk turun dari jabatan. Saya mundur dan pergi ke hutan untuk melakoni tirakat. Saya dapat wisik bahwa saya ‘dilarang ikut main di atas panggung’. Dua puluh tahun sejak tahun 1945 akan ada huru hara besar di mana Presiden Soekarno menjadi korbannya! Saya memilih berada di luar pagar istana saja…”

Siapakah yang berbicara seperti itu?

Huff… kian menantang kan kasusnya?

Lantas, mari simak catatan kritis sejarawan Asvi Warman Adam seputar ini.

“Dalam sejarah lisan, seseorang mendapatkan ‘kesempatan kedua’ menjadi pahlawan. Kesempatan di mana ia merubah fakta yang buruk menjadi baik.”

Nah, siapakah sang tertuduh di sini?

– Adakah itu si lelaki renta di atas?

– Bagaimana jika seandainya sang Shodancho masih walafiat, setidaknya sampai buku ini terbit tujuh tahun silam?

Sudahlah. Simak sendiri saja semuanya tanpa tedeng aling-aling.

Oh ya, jangan kaget, siapa tahu di halaman pamungkas — tepatnya di halaman 216— Anda secara pribadi haqqul yakin bahwa Andaryoko Wisnuprabu tak lain tak bukan adalah Supriyadi sendiri!

Ibarat judul salah karya Agatha Christie, katakan saja... and Then There were (N)One!

“… saya tidak butuh nama Supriyadi ditonjolkan atau dihargai secara luas. Saya hanya ingin sejarah tidak dibelak-belokkan…”

Harga: Rp. 40.000,- di luar ongkos kirim.

Persediaan terbatas.

beli

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s