THE MONK WHO SOLD HIS FERRARI — Ambisi Duniawi, Makna Kehidupan dan Kesempatan Kedua

The Monk Who Sold Ferrari

Judul: The Monk Who Sold His Ferrari — Ambisi Duniawi, Makna Kehidupan dan Kesempatan Kedua (edisi terjemahan bahasa Indonesia dari buku dengan judul yang sama, 235 halaman).

Penulis: Robin Sharma.

Penerbit: Kaifa, Bandung, 2014.

Kondisi: Baru (tanpa segel plastik).

Review: Ingin mereguk kisah inspiratif  di tengah hiruk pikuk keseharian?

Ingin mencari sesuatu yang lain daripada yang lain di luar pemenuhan  kebutuhan sandang, pangan dan papan?

Itu dia: the larger part of you, sisi yang lebih besar dalam diri Anda, memanggil-manggil.

Turuti dorongan tersebut. Atau Anda bakal terkubur bersama setumpuk kekecewaan!

Adalah Julian Mantle, pengacara sukses paruh baya dengan tarif sekian ribu dolar untuk satu jam konsultasi. Kesibukannya di kantor tiada akhir, dari pagi hingga menjelang pagi lagi.  Imbalannya memang bagus:  ia punya rumah mewah, segala mobil mulus bahkan pesawat plus pulau pribadi. Tak ayal, dengan gaya hidupnya itu, banyak perempuan cantik mengelilinginya.

Suatu hari di tengah ruang sidang, tiba-tiba ia tersungkur ke lantai. Julian terkena serangan jantung dan segera dilarikan ke unit perawatan intensif

Dari situ semua berubah…

“Setelah keluar dari rumah sakit, ia memutuskan…berhenti berpraktik sebagai pengacara dan meninggalkan perusahaan ini,” kata si tua Harding, mitra Julian satu kantor.

Sekian waktu berselang terdengar kabar  Julian pergi ke India. Ia sebelumnya menjual semua harta, termasuk mobil ferrari kesayangannya. Lelaki itu memutuskan ingin mencari jawaban atas kehampaan di balik semua prestasi dan limpahan materi yang dimilikinya selama ini.

“Julian menjadi yogi India?” pikirku sinis. “Hukum sungguh bekerja dengan cara yang paling misterius.”

Hidup berputar. Tiga tahun berlalu.

“Ada yang ingin bertemu denganmu, John. Mendesak, katanya” ujar asistenku Genevieve.

“Aku tak punya waktu bertemu siapa pun. Suruh orang itu membuat janji temu lain kali,” jawabku kasar.

“Dia tak mau ditolak,” imbuh asistenku lagi.

Hhhhrr…

Pintu kantor terbuka pelan. Tampak seorang lelaki berusia 30-an tersenyum. Ia tinggi, ramping dan berotot.

“Pengacara jagoan mana lagi ini?” batinku.

Orang di depanku itu terus menatapku.

“Beginikah caramu memperlakukan tamu?” katanya sejurus kemudian.

Sensasi aneh menggelitik ulu hatiku. Aku pernah kenal suara parau itu. Kuingat-ingat…

“Kau Julian?” ujarku setengah yakin.

Tamuku itu tertawa keras. Dan aku sangat mengenali tawa yang khas itu.

Nah, bagaimana bisa demikian situasinya, silakan temukan sendiri kisah detilnya.

Dijamin, ada kesegaran mengalir dalam jiwa begitu Anda menamatkan buku ini.

Harga: Rp. 35.000,- di luar ongkos kirim.

beli

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s