WASRIPIN & SATINAH

Judul: Wasripin & Satinah, 250 halaman.

Penulis: Kuntowijoyo

Penerbit: Kompas, Jakarta, Cetakan Kedua 2013.

Review: Ini novel tentang lika liku hidup dua manusia jelata. Satu laki-laki dan yang lainnya perempuan. Nasib membawa keduanya ibarat naik roller coaster dari waktu ke waktu, kadang di atas kadang di bawah; kadang dicaci maki, kadang dipuja puji.

Tak seperti pada umumnya cerita panjang yang sedari awal berkutat pada karakter para tokohnya, karya Kuntowijoyo ini justru memiliki kekuatan pada rangkaian peristiwa yang mengalir tanpa bisa ditebak.

“Sejak ibunya meninggal ketika Wasripin masih berumur tiga tahun, ia dipungut anak oleh emak angkatnya yang berjualan tahu ketoprak, berpindah-pindah tergantung adanya proyek.”

“Setamat SD, ia cukup kuat untuk mendorong gerobak dagangan dan dapat dipercaya mencuci piring.”

“Umur enam belas atau tujuh belas emak angkatnya meraba-raba sarungnya dan berbisik, “Engkau laki-laki dewasa!” Saat itu, Wasripin mencium bau alkohol dari mulut emak angkatnya…”

Nah…nah…

Lantas bagaimana dengan yang perempuan?

“Anak kami namanya Waliyem.”

Namun rupanya anak itu membawa sial. Sudah kelas tiga SD badannya masih kecil, hidung selalu meler, telinga berbau busuk dan mata merah serta mudah masuk angin. Bapaknya jatuh dari pohon kelapa dan langsung lumpuh. Dagangan ibunya awut-awutan karena modalnya habis digerogoti tetangga…

Maka, diadakanlah upacara ruwatan buat si bocah pembawa nelangsa itu. “Kau sekarang jadi Satiyem!”

Pada waktu paman Satiyem jadi bos ketoprak, terjadilah peristiwa itu: laki-laki tua itu tak tahan melihat kain keponakannya tersingkap.

“Bunuh aku, bunuh aku anak tak berguna ini!” kata Satiyem pada orang tuanya.

“Saya mengaku telah berbuat khilaf, Mas—Mbakyu,” kata si paman.

“Kok ya tega-teganya kau ini! Bagaimana…”

Sang paman nekad. Disautnya sendok di meja dan segera ia mencungkil kedua bola matanya! Bola mata itu jatuh di lantai tanah.

“Aku bersumpah demi Tuhan, Mas—Mbakyu! Seumur hidup aku tidak akan mnenyentuh perempuan lagi!”

Darah menetes deras dari kelopak mata sang paman.

“Bukan begitu maksud kami!”

Ah, sudahlah. Lanjut baca sendiri saja, ya!

Harga: Rp. 40.000,- di luar ongkos kirim.

Persediaan terbatas.

beli

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s