MONICA’S STORY

Judul: Monica’s Story, edisi terjemahan dari buku asli dengan judul yang sama, 395 halaman.

Penulis: Andrew Morton.

Penerbit: Dabara Publishers, Solo 1999.

Review: “Nyonya, Anda dalam masalah serius,” kata mereka  kepadanya dalam cara yang kurang menyenangkan.

Dengan gelagapan dan pandangan memelas, ia menatap dua agen FBI di depannya. Lantas, matanya tertuju kepada Linda Tripp sambil bergumam: “Betapa teganya kau melakukan ini kepadaku?” “Bagaimana aku sampai bisa mempercayaimu selama ini?”

“Akhirnya… ia berhasil mengeluarkan satu kalimat yang umumnya terdapat dalam film-film kriminal: ‘Saya tidak berbicara kepada siapa pun tanpa pengacara saya.'”

Orang-orang itu mengatakan jika ia mau kompromi maka masalahnya jadi lebih sederhana. Demi alasan  tersebut, ia menurut saja kala mereka menggiringnya ke sebuah ruangan di Ritz Carlton. Sekian menit berlalu, kesadaran mulai merayapi hatinya: “Tolong, monster-monster ini menangkapku! Ya Tuhan, tolong!”

Benar. Ini buku legendaris yang menguak skandal perselingkuhan antara Presiden Amerika Serikat kala itu, Bill Clinton, dengan perempuan pegawai magang Gedung Putih, Monica Samille Lewinsky.

Andrew Morton, sang penulis — sebelumnya menggarap memoar laris tentang Lady Diana— membeberkan siapa Lewinsky, latar belakang keluarganya, dan bagaimana ia bisa menapakkan kakinya untuk bekerja di gedung paling bergengsi di Washington.

“Jantungku serasa berhenti berdetak, nafasku jadi lebih cepat… kala melihat Presiden berdiri di panggung.”

Demi Tuhan, salahkah jika seorang perempuan jatuh suka pada seorang laki-laki?

Kelirukah bila seorang gadis merasa deg-degan memandang lawan jenisnya?

Logikanya, itu sah saja. Tapi mungkin, ini jadi salah karena si lelaki bukan orang biasa. Statusnya sebagai kepala negara sebuah negeri adidaya membuat segalanya terasa jungkir balik! Belum lagi — tentu saja: sang presiden jelas-jelas sudah beristri dan beranak.

Semua jadi runyam dan panjang.

Serunyam dan sepanjang apa khalayak sudah tahu, pada akhirnya.

Bagaimana lika-likunya, biar Tuan Morton saja menerangkan detilnya untuk Anda.

Yang jelas, setelah deru debu berlalu dan Lewinsky dipaksa menepi, ia tanpa tedeng aling-aling tetap sanggup berkata: “Kadang-kadang aku sangat merindukannya!”

Harga: Rp. 100.000,- di luar ongkos kirim.

Persediaan terbatas.

 

 

 

 

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s