PRIA YANG SALAH MENGIRA ISTRINYA SEBAGAI TOPI

Judul: Pria yang Salah Mengira Istrinya sebagai Topi (edisi terjemahan dari buku asli berjudul “The Man Who Mistook His Wife for a Hat”, 345 halaman).

Penulis: Oliver Sacks, terbit pertama kali di Inggris dan Amerika Serikat, 1985.

Penerbit: PT Indeks, Jakarta, 2013.

Review: Ketika seorang ahli saraf kebetulan piawai menulis cerita pendek, buku inilah hasilnya. Tak tanggung tanggung, ada 24 kisah berjajar, yang semua diilhami dari pengalaman Dokter Sacks melayani pasien-pasiennya.

Kisah utama yang menjadi judul karya ini adalah tentang Dr. P., seorang musisi sekaligus guru sekolah musik yang tak dapat mengenali wajah orang lain!

Sejatinya, Dr. P. ini tidak buta sama sekali. Ia sanggup mengidentifikasi benda-benda di sekelilingnya baik dalam jarak jauh maupun dekat. Namun bila yang dilihatnya berhubungan dengan wajah, laki-laki ini seketika kehilangan arah. Benaknya tak sanggup memproses dan gagal mengenali obyek di depannya secara utuh.

“Tidak ada masalah dengan mata Anda, ” kata dokter mata yang memeriksanya.

“Tapi ada yang salah dengan bagian visual dari otak Anda. Jadi, Anda saya rujuk ke dokter saraf.”

Saat kemudian Dr. P. menemui Dokter Sacks di ruangannya, pengalaman aneh terjadi. Selepas uji refleks kaki, sang neurolog membolehkan pasien mengenakan sepatunya sendiri.

“Yang membuatku terkejut, semenit kemudian, dia belum selesai melakukannya,” kata Dokter Sacks.

“Bisa saya bantu?” ujarnnya lagi sejurus kemudian kepada Dr. P.

“Bantu apa? Bantu siapa?” jawab yang diajak bicara.

“Membantu Anda mengenakan sepatu.”

“Ini sepatuku, bukan?” tanya Dr. P. sambil memegang kakinya.

“Bukan. Itu bukan sepatu Anda. Itu kaki Anda!”

“Saya pasti nampak kaget,” batin Dokter Sacks.

“Lalu… Dr. P. tampak berpaling ke sana ke mari mencari topinya. Dia mengulurkan tangan, dan memegang kepala istrinya, mencoba mengangkatnya dan mengenakannya. Tampaknya dia salah mengira istrinya sebagai topi! Istrinya tampak seakan sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu.”

Huff, seperti itulah gambaran kelainan saraf yang secara klinis disebut agnosia visual. Penderitanya secara umum dapat hidup normal namun mutlak perlu bantuan. Dalam kasus Dr. P., alih-alih mengingat wajah, ia menggunakan suara orang di depannya sebagai sarana baginya mengenali orang tersebut.

Bagaimana dengan 23 kisah selanjutnya?

Asli bagus-bagus semua. Misalnya ini, yang berjudul Fantom.

Oh ya, kalangan neurolog menjabarkan bahwa fantom adalah kondisi di mana orang yang bagian tubuhnya sudah lama hilang memiliki ilusi atau khayalan seolah-olah bagian tubuhnya itu masih lengkap. Salah satu sub-kisahnya demikian:

“Seorang pelaut tanpa sengaja terpotong jari telunjuk kanannya. Selama 40 tahun sesudahnya dia diganggu oleh khayalan jari telunjuk tersebut terjulur kaku, sebagaimana keadaannya waktu terpotong. Setiap kali ia menggerakkan tangan ke wajahnya — misalnya untuk makan atau menggaruk hidung — dia takut kalau jari khayalan ini akan menusuk matanya! Dia tahu ini mustahil tapi perasaannya sungguh tak tertahankan.” 

Pendek kata, karya ini layak diacungi dua jempol. Bukan misteri tapi bikin bergidik; mungkin tak sepenuhnya kisah nyata tapi bikin menganga!

Harga: Rp. 55.000,- di luar ongkos kirim.

Persediaan terbatas.

 

 

 

 

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s