SALT SUGAR FAT — How the Food Giants Hooked Us

Ringkasan buku karya Michael Moss (2013)

Ide Utama

Bertutur tentang pudarnya minat atas makanan rumahan, buku ini dengan tajam mengungkap mengapa di jaman modern ini semakin banyak orang  ketagihan mengkonsumsi garam, gula, dan lemak dalam makanan sehari-hari. Selain itu, dipaparkan pula trik industri makanan dalam memikat selera khalayak demi menjejalkan gabungan ketiga komponen itu dalam produk mereka.

Ringkasan Inti

Jujur saja, kebanyakan orang lebih suka jajan. Alih-alih makan di rumah dengan sayur dan lauk pauk tradisional dapur sendiri — siapa pun yang memasaknya, rasanya beli makan atau cemilan di luar lebih menantang sekaligus mengasyikkan. Betul, kan? Apa lagi di era “tinggal tunjuk dan tinggal klik” sekarang ini. Mau ini? Cari itu? Semua ada, segala bisa.

Karya ini membuka mata pembaca betapa kuat dan mengakarnya jejak industri makanan dari waktu ke waktu. Ia memanfaatkan cara pandang orang yang ingin serba praktis sambil, tentu saja, mengarahkan konsumen untuk bertindak sesuai harapan industri.

Di mana semua itu dilakukan? Wahana apa yang umumnya digunakan? Jawabnya sederhana: di tivi. Yup, di televisi melalui iklan, siaran niaga yang membombardir pemirsanya dari pagi hingga nyaris besok pagi lagi dengan maksud agar pesan yang disampaikan terekam dengan baik di benak publik. Setidaknya, begitulah situasinya ketika buku ini terbit delapan tahun lampau.

“Coba produk jempolan ini, Ibu-ibu. Jangan lupa, ya!”

“Ini mengandung vitamin dan mineral ekstra, lho!”

“Lapar tapi sibuk? Pilih ini aja. Dijamin kenyang dan gak ribet!”

Dan seterusnya klaim iklan mengalir deras. Tujuannya, cepat atau lambat, menggeser perilaku individu atau keluarga untuk lebih mengutamakan kepraktisan, kemodernan ketimbang repot — uplek — sendiri di dapur.

Gula, garam, Lemak

Pada bagian lain, penulis memaparkan bahwa tubuh manusia dari waktu ke waktu semakin menggemari gula. Anggapan umum menyebut raga butuh asupan ini karena ia merupakan sumber energi yang menopang aktivitas keseharian. Sayangnya, kebutuhan yang di awal hanya sekadarnya saja itu makin lama semakin menggunung. Terasa ada yang kurang dalam sehari kalau belum mengkonsumsi yang manis!

Tak berhenti di situ. Ketagihan akan gula ternyata dibarengi dengan keinginan untuk mengkonsumsi lemak lebih banyak. Padahal, kata pelajaran sekolah dulu, energi dari lemak dua kali lebih banyak dibandingkan gula. Di sinilah kemudian industri makanan masuk, menawarkan aneka produknya, yang tentu saja mengandung gula dan garam di satu sisi atau lemak di bagian lain. Ini berlangsung di semua negara di dunia, tanpa kecuali. Di Amerika Serikat, individu rata-rata mengasup lemak 50 persen lebih banyak setiap harinya dari yang mereka butuhkan.

Salah Konsumen

Lantas apakah industri makanan bertanggung jawab atas fenomena pudarnya makanan rumahan? Di luar dugaan, penulis buku ini menyatakan tidak. Ya, segala ketagihan akan gula, garam dan lemak bukan kesalahan produsen meski mungkin andil mereka di sana tidak kecil. Secara umum, ini lebih terkait dengan pola tingkah laku konsumen yang semakin butuh doping dalam bentuk asupan berlebih gula, garam dan lemak.

Dengan kata lain, ini kesalahan kita sendiri. Aduh, mak!

Bagaimana bisa begitu?

Karena pasar menuntut demikian, begitu tegas Moss. Serangkaian contoh di Amerika Serikat menunjukkan bahwa produk A jadi kurang laku ketika kadar garamnya dikurangi, produk B tak diminati konsumen saat produsennya mencoba menurunkan kandungan gula, produk C dirasa pelanggan kurang gurih karena lemak di dalamnya diturunkan kadarnya.

Jadi begitulah, yang dituntut konsumen dari waktu ke waktu adalah makanan yang kurang atau tidak sehat dan… industri  makanan menunggangi situasi tersebut. Mereka lantas menegaskan kehadiran produknya lewat  televisi, via iklan yang tak berkesudahan itu.

Pada akhirnya, pesan utama buku ini jelas: mari kembali mengkonsumsi makanan sehat, yang selama ini identik dengan makanan rumahan!

Kutipan Penting

“Setiap tahun, industri makanan menggunakan garam dalam jumlah yang membelalakkan mata: lima biliun pounds!” — Michael Moss

“Semakin manis produk, semakin besar keinginan anak-anak akan rasa manis.”

“Ini bukan karena industri makanan ingin membuat anak-anak gemuk. Ini karena anak-anak itulah yang menginginkan demikian. Hanya segelintir saja bocah yang mau makan kue apem dan tahu.”

  • Suka dengan ringkasan singkat ini dan merasa ada manfaatnya? Yuk tunjukkan dukungan Anda untuk Pustaka Buku Bekas dalam bentuk donasi.
  • Anda dapat berkontribusi mulai dari lima ribu, tiga ribu, dua ribu rupiah saja. Klik gambar di bawah ini dan yakinlah asupan mental sama pentingnya dengan belanja online. Setuju, kan?
  • Ingin ringkasan yang lebih detil lagi dari buku ini? Silakan lengkapi dan kirimkan formulir di bawah ini sambil berkontribusi mulai dari dua puluh ribu, lima belas ribu, sepuluh ribu rupiah saja per judul. Kami akan menginfokan rekening transfer untuk selanjutnya mengirimkan ringkasan buku langsung ke inbox Anda maksimal lima hari kerja setelah dana terkonfirmasi.

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s