PENSION READY PENSION HAPPY — Pedoman Pensiun Lebih Dini, Lebih Sejahtera, dan Lebih Bahagia

Ringkasan buku karya Prita Hapsari Ghozie (2018)

Ide Utama

Masa pensiun adalah tantangan terbesar dalam hidup setiap orang. Dan jangan pernah beranggapan bahwa purnakerja adalah urusan mereka yang berusia 50 tahun ke atas!

Menurut Prita, setidaknya ada tiga fenomena terkait pensiun: ada yang namanya pensiun mini, pensiun dini, dan pensiun normal. Anda bisa mengira-ngira sendiri perbedaannya. Yang pasti, kesemuanya itu menuntut pengelolaan optimal atas situasi keuangan, mental dan kesehatan. Gagal mempersiapkan pensiun adalah tiket pasti menuju stres atau depresi, yang berisiko menurunkan kualitas hidup seseorang.

Ringkasan Inti

Perencanaan pensiun yang matang akan membuat individu relatif tenang, tidak kelabakan memikirkan usianya yang jalan terus, kesehatannya yang mungkin menurun, kebutuhan hidupnya yang terus meningkat, dan tentu saja, berkurangnya sumber penghasilan.

Dalam kaitan ini, penulis memperingatkan agar sedapat mungkin pensiunan menghindari yang namanya “makan tabungan” karena ini dapat menciptakan masalah baru di depan. Pun, kecemasan dapat muncul kendati Anda sudah cukup siap menyongsong pensiun dengan memiliki investasi di pasar keuangan. Harap diingat bahwa setiap gejolak finansial, apa lagi bila itu sudah tergolong krisis, dampaknya akan melebar kemana-mana, termasuk dirasakan oleh para pensiunan.

Evaluasi

Nah, agar bisa pension ready, pension happy, literasi ini mewanti-wanti perlunya mengevaluasi seberapa banyak aset dan kewajiban seseorang guna mengetahui kekayaan bersihnya. Di sini Anda akan dituntun untuk mengisi serangkaian tabel guna memetakan situasi finansial pribadi. Bila selisih dari keduanya positif, itu artinya Anda lebih yakin menjalani masa purnatugas.

Mengevaluasi biaya hidup rutin juga mutlak dilakukan, termasuk beragam biaya lain seperti yang terkait kesehatan, keagamaan, liburan, atau bahkan kerja sosial dan alokasi untuk keluarga besar. Pahami juga bahwa tingkat inflasi akan membuat segalanya menjadi semakin mahal hingga sangat mungkin prioritas pengeluaran perlu diatur ulang — ada yang dipangkas, ada yang dicoret, dan seterusnya. Tentu saja, ini tak bisa dilakukan sepihak alias perlu kompromi dengan pasangan, baik itu suami atau pun istri.

Well, itu baru dua sisi saja. Masih banyak lagi yang harus Anda pahami dan siapkan. Tapi tak perlu berkecil hati karena, menurut Prita, siapa pun bisa mempersiapkan pensiun asalkan punya komitmen kuat untuk membangun masa tua yang tidak merepotkan dan bahkan menyenangkan. 

Generasi “Sandwich

Akan halnya kaum milenial, kelompok ini pun harus meningkatkan kesadaran seputar pensiun agar terhindar dari situasi kena gencet atas bawah alias jadi “sandwich generation”: mesti menanggung biaya hidup orang tua plus membiayai anak-anak. Dalam bentuknya yang paling sederhana, sadari yang namanya “bocor halus” seperti jajan kopi atau snack kekinian, nyobain skin care terbaru, game anyar dan sebagainya, untuk dialokasikan ulang ke kantung investasi, dana darurat dan sejenisnya.

Opsi bagi yang Tidak Siap Pensiun?

Bagaimana bila seseorang merasa tak siap pensiun?

Setidaknya ada tiga alternatif yang bisa dipertimbangkan mulai dari bekerja lebih lama, membangun penghasilan mandiri entah itu sebagai konsultan atau freelancer hingga memprioritaskan ulang pengeluaran. Memang semua ada tantangannya masing-masing. Namun setidaknya, horizon pengharapan Anda menjadi relatif stabil dengan serangkain pilihan tersebut di samping juga menekan kekhawatiran yang berlebihan. Anda bisa juga mengembangkan rencana cadangan, Plan B, yang sebaiknya dikonsultasikan dengan profesional keuangan pribadi.

Kesalahan Umum Menjelang Pensiun

Pada bagian akhir buku ini, penulis mengungkapkan sembilan kesalahan umum menjelang pensiun. Salah satunya adalah investasi bodong yang marak di tanah air. Masih banyak saja mereka yang kejeblos sekali pun pihak otoritas sudah sering mengingatkan. Berikut ini beberapa jebakan betmen calon pensiunan:

– Terlalu emosional dalam berinvestasi dan percaya kata orang tanpa meneliti lebih lanjut.

– Tidak berbuat apa-apa karena takut salah dan cenderung skeptis.

– Berharap pada sesuatu yang tidak pasti seperti lonjakan pasar yang tiba-tiba karena hal yang tak terprediksikan sebelumnya.

– Tidak punya cukup uang cash, yang idealnya untuk satu hingga lima tahun ke depan.

_ Tidak peduli tingginya inflasi biaya kesehatan.

_ Masih berutang saat memasuki pensiun, apa lagi yang sifatnya konsumtif seperti KTA atau pinjaman online.

– Menganggap rumah tinggal sebagai investasi.

– Mengambil saldo tabungan hari tua saat masih produktif.

Kutipan Penting

“Anda bertanggung jawab atas masa pensiun Anda sendiri.”

“Rejeki tidak pernah tertukar. Namun, manusia bisa salah dalam mengelola rejekinya.”

“Apa yang kita dapatkan hari ini pastilah yang terbaik bagi kita sesuai porsi-Nya.”

Beli edisi e-book buku ini di Gramedia.

Beli edisi cetak buku ini di Bukalapak.

Beli edisi cetak buku ini di blibli.

  • Suka dengan ringkasan singkat ini dan merasa ada manfaatnya? Yuk tunjukkan dukungan Anda untuk Pustaka Buku Bekas dalam bentuk donasi.
  • Anda dapat berkontribusi mulai dari lima ribu, tiga ribu, dua ribu rupiah saja. Klik gambar di bawah ini dan yakinlah asupan mental sama pentingnya dengan belanja online. Setuju, kan?

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s