Tag: cerpen Kompas

dodolit dodolit dodolibret — CERPEN PILIHAN KOMPAS 2010

Judul: dodolit dodolit dodolibret — Cerpen Pilihan Kompas 2010, 210 halaman.

Editor: Putu Fajar Arcana.

Penerbit: Kompas, Jakarta, 2011.

Review: Memuat delapan belas cerita pendek terpilih sepanjang 2010, buku ini sangat bisa dinikmati sejak halaman pembuka hingga akhir. Semua kisah setara bagusnya, sama “mak jleb”-nya. Banyak saksinya: Kiplik, Sukro, Pak RT, Masdudin, Mak Saniah dan satu lagi, si Tukang Obat!

Tak percaya?

(more…)

LAMPOR

lampor

Judul: Lampor — Cerpen Pilihan Kompas 1994, 172 halaman.

Penerbit: Kompas, Jakarta.

Review: Suka cerita pendek yang biasanya muncul di edisi Minggu koran nasional?

Pasti sempat tahu atau dengar judul yang satu ini, dong?

Yup, Lampor. Karya cerpenis Joni Ariadinata.

Cerita soal apa sih ini?

Intip, yuk cerita utamanya!

(more…)

LAKI-LAKI YANG KAWIN DENGAN PERI

Judul: Laki-Laki yang Kawin dengan Peri, Cerpen Pilihan Kompas 1995, 148 halaman.

Penerbit: Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2016.

Review: Kumpulan cerita pendek ini tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Ada tujuh belas kisah yang siap dinikmati dan dijamin membawa kepuasan tersendiri bagi pembacanya.

Karya para jawara berderet dalam kompilasi ini. Ada buah pena Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Ratna Indraswari Ibrahim, Ahmad Tohari dan Seno Gumira Ajidarma. Tak ketinggalan, penulis idola yang fasih bercerita sisik melik kaum priyayi, Tuan Umar Kayam.

Kita intip, yuk!

(more…)

BIDADARI MENITI PELANGI — Kumpulan Cerpen

Bidadari Meniti Pelangi

Judul: Bidadari Meniti Pelangi — Kumpulan Cerpen, 170 halaman.

Penulis: S. Prasetyo Utomo.

Penerbit: Kompas, Jakarta, 2005.

Review: “Osnan, lelaki kecil delapan tahun itu, menjulurkan benang layang-layangnya, berhasrat menyentuh ujung lengkung pelangi, agar sampai ke negeri bidadari. Tetapi gulungan benangnya sudah habis. Dan layang-layang Osnan masih jauh dari ujung lengkung pelangi.

‘Mana, mana bidadari itu? Kenapa tak mau meniti pelangi?’ kata Osnan penuh harap.

Tapi bidadari cantik yang diharapkan Osnan tak nampak turun ke bumi. Yang didengarnya malah seruan ibunya. Osnan tak mau mendengar. Masih ditatapnya lengkung pelangi sampai ke ujung terjauh. Rambutnya basah kena rintik gerimis.

Malamnya Osnan meracau, tubuhnya sepanas bara, menggigil sampai bergemeretakan gigi-gigi dan gerahamnya…”

(more…)