Tag: cerpen

“AKU KESEPIAN, SAYANG.”

Seno Gumira

Judul: “Aku Kesepian, Sayang”: Kumpulan Cerpen , 195 halaman.

Penulis: Seno Gumira Ajidarma.

Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2004.

Review: “Kenapa aku selalu bertemu lelaki yang sudah beristri? Bukan mauku menjadi pengganggu rumah tangga orang. Pergilah. Pulanglah. Jangan kembali lagi padaku meski aku akan selalu merindukanmu…”

***

“Maka sampailah saya ke jalan besar yang menuju lapangan Tian An Men. Belum sampai ke situ… saya melihat dua lelaki, besar dan kecil. Yang sebelah tangannya masing-masing diborgol, sedangkan borgol itu dikaitkan ke pagar besi di sepanjang tepi trotoar…”

***

(more…)

dodolit dodolit dodolibret — CERPEN PILIHAN KOMPAS 2010

Judul: dodolit dodolit dodolibret — Cerpen Pilihan Kompas 2010, 210 halaman.

Editor: Putu Fajar Arcana.

Penerbit: Kompas, Jakarta, 2011.

Review: Memuat delapan belas cerita pendek terpilih sepanjang 2010, buku ini sangat bisa dinikmati sejak halaman pembuka hingga akhir. Semua kisah setara bagusnya. Banyak saksinya: Kiplik, Sukro, Pak RT, Masdudin, Mak Saniah dan satu lagi, si Tukang Obat!

Tak percaya?

(more…)

MAUKAH KAU MENGHAPUS BEKAS BIBIRNYA DI BIBIRKU DENGAN BIBIRMU?

Judul: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?, 236 halaman.

Penulis: Hamsad Rangkuti dengan kata pengantar dari Agus Noor.

Penerbit: Diva Press.

Review: “Seorang perempuan muda dalam sikap yang mencurigakan berdiri di pinggir geladak….

Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari kapal itu.

‘Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?’

‘Ini dari dia,’ katanya dan melepas sepatu. Sepatu itu jatuh mendekati ombak, kuabadikan dalam kamera.

‘Ini dari dia,’ katanya dan melepas cincin.

‘Semua yang ada padaku yang berasal darinya, akan kubuang ke laut…’

(more…)

WIDYAWATI

Judul: Widyawati, 230 halaman.

Penulis: Arti Purbani.

Penerbit: Balai Pustaka, Cetakan Ketujuh, 2001.

Review: Penasaran dengan kumpulan cerita pendek jadul karya penulis lokal?

Mau tahu serba-serbi kisah roman berlatar Jawa klasik era ’40-an?

Kalau ya, buku ini sebaiknya jangan dilewatkan!

Terlebih lagi, penulisnya dengan intens menjadikan perempuan sebagai tokoh utama dalam setiap cerita. Nuansa eksotis  terasa mulai dari halaman pertama!

(more…)

SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA

JpegJudul: Sepotong Bibir Paling Indah Indah di Dunia, Kumpulan Cerpen dan Prosa, 166 halaman.

Penulis: Agus Noor.

Penerbit: Bentang Pustaka, Jogjakarta, 2010.

Review: Masih ingat cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Sepotong Senja Untuk Pacarku?

Itu lho, tentang Sukab dan Alina.

“Alina tercinta. Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?” Begitu antara lain kutipan di dalamnya.

Lantas, apa hubungannya dengan buku ini?

(more…)

LAKI-LAKI YANG KAWIN DENGAN PERI

Judul: Laki-Laki yang Kawin dengan Peri, Cerpen Pilihan Kompas 1995, 148 halaman.

Penerbit: Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2016.

Review: Kumpulan cerita pendek ini tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Ada tujuh belas kisah yang siap dinikmati dan dijamin membawa kepuasan tersendiri bagi pembacanya.

Karya para jawara berderet dalam kompilasi ini. Ada buah pena Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Ratna Indraswari Ibrahim, Ahmad Tohari dan Seno Gumira Ajidarma. Tak ketinggalan, penulis idola yang fasih bercerita sisik melik kaum priyayi, Tuan Umar Kayam.

Kita intip, yuk!

(more…)

BIDADARI MENITI PELANGI — Kumpulan Cerpen

Bidadari Meniti Pelangi

Judul: Bidadari Meniti Pelangi — Kumpulan Cerpen, 170 halaman.

Penulis: S. Prasetyo Utomo.

Penerbit: Kompas, Jakarta, 2005.

Review: “Osnan, anak laki-laki delapan tahun itu, menjulurkan benang layang-layangnya, berhasrat menyentuh ujung lengkung pelangi, agar sampai ke negeri bidadari. Tetapi gulungan benangnya sudah habis. Dan layang-layang Osnan masih jauh dari ujung lengkung pelangi.

‘Mana, mana bidadari itu? Kenapa tak mau meniti pelangi?’ kata Osnan penuh harap.

Tapi bidadari cantik yang diharapkan Osnan tak nampak turun ke bumi. Yang didengarnya malah seruan ibunya. Osnan tak mau mendengar. Masih ditatapnya lengkung pelangi sampai ke ujung terjauh. Rambutnya basah kena rintik gerimis.

Malamnya Osnan meracau, tubuhnya sepanas bara, menggigil sampai bergemeretakan gigi-gigi dan gerahamnya…”

(more…)