Tag: cerpen

PRIA YANG SALAH MENGIRA ISTRINYA SEBAGAI TOPI

Judul: Pria yang Salah Mengira Istrinya sebagai Topi (edisi terjemahan dari buku asli berjudul “The Man Who Mistook His Wife for a Hat”, 345 halaman).

Penulis: Oliver Sacks, terbit pertama kali di Inggris dan Amerika Serikat, 1985.

Penerbit: PT Indeks, Jakarta, 2013.

Review: Ketika seorang ahli saraf kebetulan piawai menulis cerita pendek, buku inilah hasilnya. Tak tanggung tanggung, ada 24 kisah berjajar, yang semua diilhami dari pengalaman Dokter Sacks melayani pasien-pasiennya.

Kisah utama yang menjadi judul karya ini adalah tentang Dr. P., seorang musisi sekaligus guru sekolah musik yang tak dapat mengenali wajah orang lain!

(more…)

WIDYAWATI

Judul: Widyawati, 230 halaman.

Penulis: Arti Purbani.

Penerbit: Balai Pustaka, Cetakan Ketujuh, 2001.

Review: Penasaran dengan kumpulan cerita pendek jadul karya penulis lokal?

Mau tahu serba-serbi kisah roman berlatar Jawa klasik era ’40-an?

Kalau ya, buku ini sebaiknya jangan dilewatkan!

Terlebih lagi, penulisnya dengan intens menjadikan perempuan sebagai tokoh utama dalam setiap cerita. Nuansa eksotis  terasa mulai dari halaman pertama!

(more…)

SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA

JpegJudul: Sepotong Bibir Paling Indah Indah di Dunia, Kumpulan Cerpen dan Prosa, 166 halaman.

Penulis: Agus Noor.

Penerbit: Bentang Pustaka, Jogjakarta, 2010.

Review: Masih ingat cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Sepotong Senja Untuk Pacarku?

Itu lho, tentang Sukab dan Alina.

“Alina tercinta. Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?” Begitu antara lain kutipan di dalamnya.

Lantas, apa hubungannya dengan buku ini?

(more…)

LAKI-LAKI YANG KAWIN DENGAN PERI

Judul: Laki-Laki yang Kawin dengan Peri, Cerpen Pilihan Kompas 1995, 148 halaman.

Penerbit: Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2016.

Review: Kumpulan cerita pendek ini tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Ada tujuh belas kisah yang siap dinikmati dan dijamin membawa kepuasan tersendiri bagi pembacanya.

Karya para jawara berderet dalam kompilasi ini. Ada buah pena Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Ratna Indraswari Ibrahim, Ahmad Tohari dan Seno Gumira Ajidarma. Tak ketinggalan, penulis idola yang fasih bercerita sisik melik kaum priyayi, Tuan Umar Kayam.

Kita intip, yuk!

(more…)

BIDADARI MENITI PELANGI — Kumpulan Cerpen

Bidadari Meniti Pelangi

Judul: Bidadari Meniti Pelangi — Kumpulan Cerpen, 170 halaman.

Penulis: S. Prasetyo Utomo.

Penerbit: Kompas, Jakarta, 2005.

Review: “Osnan, anak laki-laki delapan tahun itu, menjulurkan benang layang-layangnya, berhasrat menyentuh ujung lengkung pelangi, agar sampai ke negeri bidadari. Tetapi gulungan benangnya sudah habis. Dan layang-layang Osnan masih jauh dari ujung lengkung pelangi.

‘Mana, mana bidadari itu? Kenapa tak mau meniti pelangi?’ kata Osnan penuh harap.

Tapi bidadari cantik yang diharapkan Osnan tak nampak turun ke bumi. Yang didengarnya malah seruan ibunya. Osnan tak mau mendengar. Masih ditatapnya lengkung pelangi sampai ke ujung terjauh. Rambutnya basah kena rintik gerimis.

Malamnya Osnan meracau, tubuhnya sepanas bara, menggigil sampai bergemeretakan gigi-gigi dan gerahamnya…”

(more…)

PENGANTIN LUKA

Pengantin Luka

Judul: Pengantin Luka, 154 halaman.

Penulis: K. Usman.

Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2006.

Review: Bagaimana pengantin tercipta?

Tanyakan itu kepada penulis sepuh K. Usman dan ia akan lugas menjawab: “Cerpen-cerpen dalam buku ini benar-benar saya eksplorasi dan reka dari 99 persen imajinasi. Tanpa konsep tertulis, ide cerita sudah seperti gambar di film layar lebar dan seperti buah matang di pohon, saya langsung mengetik. Istilah Mimin, istri saya, ‘suamiku sudah mojok’.”
(more…)

PANGGIL AKU: PENG HWA — 20 Cerita Pendek

Peng HwaJudul: Panggil Aku: Peng Hwa — 20 Cerita Pendek, 252 halaman.

Penulis: Veven SP. Wardhana.

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, Juni 2013.

Review: “Sejarah telah menyeretku menjadi bunglon: cepat berganti nama begitu berpindah tempat hinggap. Ada saatnya kukenalkan diriku sebagai Peng Hwa, ada masanya kusebutkan namaku sebagai Effendi Wardhana, sebuah nama seperti tertulis di KTP…

… Lalu, aku pun menjadi terbiasa dengan nama Effendi Wardhana, sementara kalau ada yang memanggilku Peng Hwa, kupingku jadi gatal…”

Nah, apa kisah di balik kedua nama tersebut?

(more…)