Tag: novel

WASRIPIN & SATINAH

Judul: Wasripin & Satinah, 250 halaman.

Penulis: Kuntowijoyo

Penerbit: Kompas, Jakarta, Cetakan Kedua 2013.

Review: Ini novel tentang lika liku hidup dua manusia jelata. Satu laki-laki dan yang lainnya perempuan. Nasib membawa keduanya ibarat naik roller coaster dari waktu ke waktu, kadang di atas kadang di bawah; kadang dicaci maki, kadang dipuja puji.

Tak seperti pada umumnya cerita panjang yang sedari awal berkutat pada karakter para tokohnya, karya ini justru memiliki kekuatan pada rangkaian peristiwa yang mengalir tanpa bisa ditebak.

(more…)

CIUMAN DI BAWAH HUJAN

Ciuman di Bawah Hujan

Judul: Ciuman di Bawah Hujan, 359 halaman.

Penulis: Lan Fang.

Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2010.

Review: Novel yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas antara pengujung tahun 2009 hingga awal 2010 ini bercerita tentang sejumlah tokoh dengan beragam watak dan perilakunya.

Adalah Ari, politisi bermata terang namun tak pernah mampu menangkap asap.

Lantas Rafi, politisi berkaki dingin yang terjebak basah gerimis.

Pun, ada Fung Lin, perempuan yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan.
(more…)

PAVILION OF WOMEN: Madame Wu

Pavilion of Women

Judul: “Pavilion of Women”: Madame Wu (edisi terjemahan bahasa Indonesia dari buku asli dengan judul yang sama), 516 halaman.

Penulis: Pearl S. Buck.

Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2007.

Review: Siapa pun yang kerap membaca karya penulis buku ini sadar betul: Pearl menulis setiap kisah dengan hati.

Kali ini, tentang Madame Wu. Pada hari ulang tahunnya yang ke-40, perempuan bermata sipit itu mengambil keputusan langka: ia membebaskan diri dari kewajibannya melayani sang suami. Ia bertekad hanya akan menggapai kepuasan jiwanya. Untuk memenuhi kebutuhan suaminya, sang Madame nekad akan membeli gundik. Ya, g-u-n-d-i-k!
(more…)

GRAND AVENUE

Grand Avenue

Judul: “Grand Avenue” (novel terjemahan dari buku dengan judul yang sama), 474 halaman.

Penulis: Joy Fielding.

Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2005.

Review: Ini kisah empat perempuan beragam usia yang tinggal di satu daerah bernama Grand Avenue. Chris, Barbara, Susan dan Vicki berbagi suka duka selama lebih dari empat puluh tahun. Mereka menikah dengan pria pria ambisius yang sukses.

Namun, ada sesuatu di balik itu semua.

Apa?

(more…)

MEKAR KARENA MEMAR

Judul: Mekar Karena Memar, 151 halaman.

Penulis: Alex L. Tobing.

Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta, 1992.

Review:  Mengambil latar Jakarta era ’70 hingga ’80-an, novel ini berkisah tentang Herman, mahasiswa fakultas kedokteran yang begitu bersemangat ingin menjadi ahli bedah. Kesibukan di kampus membawanya berkenalan dengan Lita, mahasiswi yang merangkap asisten dosen.

Seiring berjalannya waktu, keduanya kerap bertemu di ruang bedah untuk mata kuliah praktikum. Berkat bantuan Lita yang bernama asli May Kim Lian, Herman menjadi lebih mudah memahami ilmu urai tubuh yang njelimet. Setelah akrab dan terbuka satu sama lain, sang pemuda jatuh hati pada si dara.

Malang tak dapat ditolak, suatu hari Lita mengalami kecelakaan. Nyawanya tak dapat diselamatkan. Herman sangat berduka. Pupus sudah harapannya untuk melangkah lebih jauh bersama sang asisten dosen.

Apakah Herman gagal “move on” akibat kejadian memilukan itu?

(more…)

CANTING

Canting

Judul: Canting, 375 halaman.

Penulis: Arswendo Atmowiloto.

Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2013.

Review: Ndalem Ngabean Sestrokusuman tampak sunyi pagi itu. Tiada hiruk pikuk kuli-kuli batik. Tiga becak yang biasanya siap membawa sang majikan ke Pasar Klewer tak nampak sama sekali.

“… anak yang kamu kandung itu, saya tak tahu. Kalau nanti besar ia jadi buruh batik, maka memang darah buruhlah yang mengalir padanya, bukan darah Sestrokusuman.”

Betapa pun susah menangkap arti perkataan tersebut, yang diajak bicara mengingat semuanya dengan jelas, mulai dari titik koma hingga nada bicara pelantunnya.

Kala itu 18 Maret 1962.

(more…)

ENTROK

Judul: Entrok, 284 halaman.

Penulis: Okky Madasari.

Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2010.

Review: Adalah Marni, perempuan Jawa buta huruf yang memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah ia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana.

Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pun pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung tinggi akal sehat.

Anak beranak itu sungguh ibarat bumi dan langit.

(more…)