Book of Wisdom: As A Man Thinketh (Bagian II)

IMG00658-20140216-2044Melanjutkan intisari buku legendaris “As A man Thinketh” karya James Allen, tulisan ini merupakan catatan mengenai bab kedua buku dimaksud, yang membahas Efek Pikiran pada Keadaan.

Bagian pertama, yang berfokus tentang Pikiran dan Karakter, bisa dibaca di sini.

Nah, seperti apa sih pengaruh pikiran bagi kehidupan manusia dari waktu ke waktu?

Yuk kita telusuri sama-sama!

Kalimat awal bab kedua buku ini berbunyi demikian:

“Benak manusia bisa diibaratkan sebagai kebun, yang bisa dirawat dengan penuh keahlian atau malah dibiarkan tak terurus. Baik ia dirawat atau pun diabaikan, kebun itu akan hidup terus. Jika tak ada benih bermanfaat yang ditanam, rumput liar akan tumbuh dan beranak pinak.”

Hmm… apa tak salah kutip?

Tak. Anda tidak sedang salah baca.

Setiap orang pada dasarnya adalah tukang kebun bagi jiwanya. “Kitalah sutradara kehidupan kita. Kitalah yang merawat kebun batin kita, menyiangi segala pikiran kotor dan menabur hanya benih-benih unggul di dalamnya…”

Hmm… bagaimana jelasnya hubungan antara kebun dan tukang kebun dalam keseharian kita?

Menurut James Allen, begini relasinya: tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua momen yang Anda alami  adalah buah dari apa yang Anda tanam, entah itu  terasa manis, pahit atau mungkin malah busuk sama sekali!

Well, bagaimana kalau Anda merasa hidup sering tidak adil?

Jawabnya, “Kita diperlakukan secara tidak adil oleh keadaan selama kita percaya bahwa kita adalah makhluk yang berada di sisi luar keadaan tersebut. Saat kita sadar bahwa kita adalah kekuatan kreatif dan kita bisa mengolah tanah kebun jiwa kita, di situlah setiap orang adalah tuan yang berkuasa atas dirinya sendiri.”

Kutipan yang agak berat untuk dicerna?

Yup, barangkali demikian. Perlu dibaca ulang barang tiga empat kali. Tak apa.

Terus, kalau sudah paham bahwa pikiranlah yang sesungguhnya mempengaruhi keadaan, apakah ini berarti kita akan selalu dapat meraih apa pun yang kita inginkan, dengan cara mengarahkan pikiran ke arah yang kita inginkan?

Nah, penulis buku ini merespon demikian: “Kita mulai menjadi manusia dewasa hanya ketika kita berhenti mengeluh dan mencerca, dan mencari keadilan tersembunyi yang mengatur kehidupan… “

Muaranya satu: dunia adalah kaleidoskop dari apa pun yang kita pikirkan; ini berlaku pada siapa pun, kapan pun dan di mana pun.

Sesederhana itu. Tapi juga sesulit itu.

Oke, selamat merenung!

Bagian ketiga dari tulisan ini, yang merupakan intisari dari bab selanjutnya berjudul Efek Pikiran pada Kesehatan dan Tubuh dapat dibaca di sini.

 

 

 

 

 

3 thoughts on “Book of Wisdom: As A Man Thinketh (Bagian II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s