EATING ANIMALS — MAKAN HEWAN

Eating AnimalsJudul: Eating Animals — Makan Hewan (edisi terjemahan dari buku asli dengan judul yang sama), 316 halaman.

Penulis: Jonathan Safran Foer.

Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2010.

Review: Pernahkah terlintas dalam benak bahwa ada rangkaian cerita di balik piring saji Anda?

Apakah itu hanya berkutat di seputar  rasa lapar — makan — dan kenyang?

Rasanya tidak begitu, kan?

Lantas, pernah jugakah terbayang untuk secara sadar memilih tidak makan daging alias jadi vegetarian?

Nah, kalau tergelitik dengan dua pertanyaan di atas, buku ini pas untuk Anda!

Yup. Di sampul belakang buku ada tulisan begini:

“… ini bukan tentang provokasi [agar Anda] menjadi vegetarian. Penulisnya lebih menempatkan karya ini berdasarkan sejumlah riset dan penyelidikan lapangan, untuk mengungkap [bahwa] praktik-praktik peternakan pabrik di Amerika Serikat sudah menyimpang jauh dari tradisi peternakan keluarga, yang memperlakukan hewan dengan bersahabat.”

Wow! Bikin miris kan? Kalau di negeri yang katanya sudah sangat maju saja situasinya demikian, bagaimana pula perlakuan umumnya orang-orang di berbagai negara berkembang terhadap binatang?

Tapi jangan khawatir.

Karya ini tak hendak membuat Anda jengah. Alih-alih membombardir pembaca untuk memilih pola makan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, buku ini hadir santai plus lugas bercerita soal mengapa pada akhirnya Foer tak menjadikan hewan bagian dari menu hariannya.

“Ketika saya berumur sembilan tahun, saya diasuh oleh orang yang berprinsip tak mau menyakiti apa pun. Dia bilang seperti itu waktu dia tak mau makan ayam bersama saya dan kakak saya.

‘Aku tak mau menyakiti apa pun,’ katanya.

‘Menyakiti?’ tanya saya.

‘Kamu tahu kan kalau ayam itu [artinya] pengecut?’

Saya dan kakak saya, Frank, saling memandang. Mulut kami penuh dengan ayam yang tersakiti itu. Kami mengalami momen ‘bagaimana mungkin itu tak pernah terpikir oleh saya selama ini dan kenapa tak ada seorang pun memberitahu saya’?

Saya meletakkan garpu saya.

Frank menghabiskan ayamnya. Dan barangkali sekarang pun ia sedang makan ayam selagi saya mengetik kata-kata ini.

Mungkin pengasuh kami tak sengaja membuat saya jadi vegetarian. Tapi apa yang dikatakannya itu masuk akal bagi saya. Kalau selama ini orangtua mengajari kami agar tak menyakiti sesama anggota keluarga, lalu kenapa untuk hewan ada pengecualian?

Tapi saya masih anak-anak kala itu. Saya tak lantas jadi vegetarian.”

Hmm…

Kalau kebetulan Anda makan sambil membaca tulisan ini, semoga tak sampai tersedak, ya!

Bagaimana pun, pilihan ada di tangan kita. Mau jadi vegetarian, hebat! Mau tetap seperti khalayak pada umumnya pun tak mutlak salah. Toh tubuh perlu protein hewani yang natural, kan?

What do you think?

Harga: Rp. 40.000,-

Persediaan terbatas.

beli

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s