PAKET BUKU: ENOUGH; FINANCIAL SELF-CONCEPT, dan WHY WE DO IT

Pustaka Buku Bekas menawarkan Paket Buku untuk Anda. Ya, beberapa buku dengan tema sejenis kami sodorkan sebagai satu kesatuan untuk dimiliki oleh sahabat Pustaka Buku Bekas.

Meski demikian, harap dicatat bahwa order buku tunggal/”piece by piece” tetap berjalan seperti biasa.  Tawaran  paket ini bakal muncul bergantian dengan “posting” reguler yang selama ini sudah berjalan. Dengan begitu, Anda semakin punya banyak pilihan.

Omong-omong, mengapa ada Paket Buku?

Jawabnya, karena Pustaka Buku Bekas ingin Anda mendapatkan yang terbaik.

Alih-alih hanya membeli satu buku dan sering “kemakan” ongkos kirim yang di luar kendali kami, tidakkah lebih baik Anda memesan lebih banyak buku agar biaya kirim relatif lebih efisien atau paling tidak sama dengan ongkos membeli satu buku saja?

Bila Anda mengangguk, itu artinya kita satu frekuensi!

Nah, sebagai permulaan, kami upayakan agar dalam satu bundel beratnya tak lebih dari satu kilogram. Seiring respon yang masuk, akan dilihat apakah patokan berat per paket layak digunakan atau perlu dicarikan alternatif lain. Dan seperti biasa, siapa cepat dia dapat alias persediaan terbatas.

***

Ini dia Paket Buku perdana dari Pustaka Buku Bekas, terdiri dari tiga judul dan berikut ini ulasannya:

Judul: “Enough” (edisi terjemahan dari buku asli dengan judul yang sama), 374 halaman.

Penulis: John C. Bogle.

Penerbit: Literati, Ciputat, cetakan Juli 2011.

Review: Anda yang getol berinvestasi saham maupun reksa dana pasti tahu bahwa setiap transaksi jual maupun beli di pasar modal tak luput dari biaya.

Secara umum, untuk setiap order di bursa terdapat sejumlah biaya yang harus ditanggung oleh investor. Ada biaya pembelian, biaya penjualan, biaya pialang, biaya pengalihan hingga biaya pengelolaan tahunan dan, bila ada, biaya transfer antarbank. Belum lagi, potongan pajak yang memang sudah digariskan oleh pemerintah.

Nah, dalam kaitan itulah Bogle selaku pakar reksa dana di Amerika Serikat menyatakan keprihatinannya yang mendalam. Alasan tokoh veteran ini jelas: sekian banyak biaya itu pastilah mengurangi imbal hasil (“return”) bagi investor.

Itu pun kalau memang imbal hasil sanggup ditorehkan oleh sebuah instrumen investasi dalam kurun waktu tertentu. Bagaimana ketika investasi dimaksud malah rugi atau jalan di tempat? Kemana perginya penasihat investasi yang sebelumnya gandrung menawarkan aneka produk lengkap dengan janji-janji keuntungan hingga sekian belas atau bahkan sekian puluh persen?

Bagaimana pun, biaya-biaya investasi tersebut harus dibayarkan, paling tidak dipotong dari rekening dana investasi pemodal. Persentasenya sekilas kecil. Tapi, demikian papar Bogle, bila kesemuanya itu dijumlahkan dari sebuah sistem keuangan, bukankah angkanya jadi luar biasa besar?

Kalo begitu, siapa sebenarnya yang punya potensi kalah banyak di sini?

Beban terbesar pasti dirasakan oleh kalangan investor individu/pemodal ritel. Cita-cita mereka untuk punya dana pensiun yang cukup boleh jadi menguap ditelan dinamika pasar yang kadang kurang bersahabat. Tambahan lagi, harus menanggung beragam biaya, yang dalam jangka panjang bisa menggerus imbal hasil — atau mungkin menggerogoti pokok investasi.

Ada pun industri keuangan, mereka bisa terus mencari klien-klien baru — orang-orang awam yang tak sadar betapa biaya investasi yang berlebihan akan mengurangi manfaat investasi itu sendiri. Nah, bagaimana tanggung jawab industri akan hal ini?

Itulah bahasan utama karya berani ini.

————————————-

Judul: “Financial Self-Concept”— Kunci Meraih Kekayaan dan Kesuksesan Sejati,  192 halaman.

Penulis: Stephen Barnabas.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008.

Review: Kata penulis buku ini, kekayaan dan kesuksesan sejatinya lebih merupakan kondisi mental ketimbang kondisi fisik. Semua keadaan yang dialami seseorang adalah cerminan batinnya sendiri.

Percaya bahwa Anda mampu, maka seperti itulah yang terjadi. Yakin Anda tak sanggup, bakal begitulah ceritanya.

“…ada suatu kondisi mental tertentu yang dimiliki oleh sekelompok orang yang menjadi kaya dan tidak dimiliki oleh sekelompok orang lainnya. Kondisi mental inilah yang saya sebut “Financial Self-Concept.”

Pada titik paling dalam, buku ini menyatakan bahwa kemampuan untuk berpikir positif akan menghasilkan berbagai ide dan inovasi baru yang mewakili kekayaan sejati Anda. Kemungkinan pencapaian finansial seseorang hanya dibatasi oleh imajinasinya sendiri dan caranya menerapkan itu semua.

Jadi, masih berani berpikir yang aneh-aneh dan menyusahkan diri sendiri?

“Come on, wake up!”

————————————-

Judul: “Why We Do It” — Upaya Menalar Perilaku Individu ketika berinteraksi dengan Ilmu Ekonomi, 118 halaman.

Penulis: Hidajat Hendarsjah.

Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta, 2009.

Review: Ini buku renyah yang tak habis sekali baca. Di dalamnya terdapat ulasan dan penalaran akan fenomena interaksi sosial dan bisnis. Semua dilihat dari kacamata ilmu Ekonomi, khususnya terkait insentif.

Yang seperti apa sih?

Misalnya demikian:

Mengapa lokasi kantor keuangan kebanyakan berada di ibu kota dan di kawasan segitiga emas?

Mengapa gudeg yang “mak nyus” di Jogja kebanyakan di daerah Wijilan?

Mengapa lapak buku bekas di Jakarta identik dengan kawasan Senen?

Itu semua ternyata ada penjelasan ilmiahnya. Clustering, pengelompokan atau apa pun itu, ada latar belakang dan teorinya.

Lantas juga ini:

Mengapa kalau kita ke warung tegal telat sedikit saja dari jam makan, lauknya tak ada lagi yang menarik atau cuma itu itu saja?

Eh, tapi kok giliran teman Anda pergi ke warung yang sama agak sore, lauknya justru masih panas dan lengkap?

Pasti ada apa-apanya. Dan memang betul. Ada penalaran di balik itu semua. Si pemilik warung punya rahasia kapan ia harus menyediakan stok banyak dan kapan membiarkan pengunjung gigit jari.

Mau tahu semuanya? Lengkap dengan sejumlah gejala umum seperti mengapa banyak orang gila diskon, sementara yang lainnya hobi berat nonton infotainment dan sebagainya.

Dua jempol deh, pokoknya.


Harga Paket Buku: Rp. 100.000,- di luar ongkos kirim.

Persediaan terbatas.

 

 

 

 

 

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s