OASE DRIJARKARA — Tafsir Generasi Masa Kini

Judul: Oase Drijarkara — Tafsir Generasi Masa Kini, 209 halaman.

Editor: G. Budi Subanar, S.J.

Penerbit: Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta, 2013.

Review: Pembicaraan tentang Drijarkara dalam kelompok diskusi terbatas berlangsung pada 2012 dan digelar dalam rangka Seabad kelahiran sang tokoh yang jatuh pada 2013.

Satu pertanyaan sering diajukan di situ, mengapa Drijarkara menjadi begitu penting dan menarik perhatian? Jawabnya ada beberapa, dan salah satunya yang perlu diperhatikan adalah ini: karena tumbuhnya keprihatinan dalam masyarakat dewasa ini terkait kinerja wakil rakyat sekaligus keberadaan sejumlah oknum di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Mereka itu harus banyak belajar dari Drijarkara! Lho, kenapa begitu?

Buku ini akan menjawabnya untuk Anda. Yang jelas, Drijarkara adalah sosok filsuf dan pendidik yang hidup pada masa antara Presiden Soekarno dan Soeharto. Sejak zaman pendudukan Jepang, tokoh ini sudah membayangkan perihal Negara RI. Catatan hariannya tertanggal 5 September 1942 tertulis demikian:

“Hari-hari ini saya telah sering kali duduk termenung memikirkan tentang perubahan-perubahan di Indonesia. Alangkah gilanya. Siapa yang akan minta nasihat saya? Apa dan siapa saya ini? … Saya berdoa agar kehidupan kami dapat melangkah… Saya ingin sekali melihat Indonesia sebagai Negara besar atau Negara-negara Serikat Indonesia Raya… Harus ada perubahan di bidang pemerintahan, perubahan menyeluruh di bidang pengajaran.”

Nah, masih sesuai kan dengan situasi sekarang? Apalagi di tengah wabah coronavirus yang meluluhlantakkan dunia di segala sendi. Mana pernah dulu terbayang orang kerja dari rumah? Mana pernah terbersit anak sekolah belajar mandiri jarak jauh? Mana pernah orang merasa sebegitu ribet dan ruwetnya urusan karena mendadak jadi mesti mengikuti protokol kesehatan, dan seterusnya.

Pendek kata, tema besar buku ini masih tetap bernas dan layak diikuti karena ini tentang kita. Ini tentang Indonesia!

Oh ya, sebagai latar belakang, Drijarkara kecil adalah bocah dari Bukit Menoreh yang saat beranjak dewasa menggabungkan diri ke dalam sebuah serikat untuk menjadi imam katolik. Dan tentu saja, harus diwanti-wanti dari awal bahwa ini buku serius yang mengkompilasi pemikiran Drijarkara dalam banyak hal, termasuk sudut pandangnya tentang perempuan dan lingkungan sosialnya.

“Kalau memang puteri sejati, ya harus berani bertanggung jawab dalam tindakan yang diperbuat. Kalau tidak bisa bertanggung jawab terhadap boleh tidaknya dansa dansi, ya tidak usah berdansa. Kendati demikian, jingklak jingklak, lebih baik jika dilakukan dengan nenek lebih dulu.”

Senyum gak dilarang, kok.

Harga: Rp. 40.000,- di luar ongkos kirim.

Persediaan terbatas.

 

 

Suka dengan konten Pustaka Buku Bekas tapi ogah beli buku? Hmm… jadi patron sungguh pilihan terbaik.  Silakan klik gambar di bawah ini untuk mendukung kami dengan Kontribusi Langsung seikhlasnya agar tak ada peluh yang sia-sia menetes. Terima kasih.

 

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s