THE TEN ARGUMENTS FOR DELETING YOUR SOCIAL MEDIA ACCOUNTS RIGHT NOW

Ringkasan buku karya Jaron Lanier (2018)

Ide Utama

Seperti tersurat dalam judulnya, buku ini menjabarkan mengapa sebaiknya orang berpaling dari media sosial karena pengaruh buruknya lebih banyak ketimbang manfaatnya!

Ringkasan Inti

Hari gini, siapa yang bisa lepas dari media sosial? Ada yang pernah mencoba diet media sosial barang sehari, seminggu atau mungkin lebih lama lagi?

Err… tantangan yang susah susah gampang atau malah gampang gampang susah. Tapi, penulis buku ini mengungkapkan sepuluh alasan mengapa media sosial harus ditinggalkan. Karena ini lho alasannya…

  • Ia mendikte Anda.
  • Ia membuat dunia semakin edan.
  • Ia merubah Anda — maaf — jadi orang brengsek.
  • Ia memanipulasi kebenaran.
  • Ia menggeser makna pesan.
  • Ia membuat Anda tak punya empati.
  • Ia membuat Anda sengsara.
  • Ia merampas potensi ekonomi Anda
  • Ia menjadikan urusan politik begitu kelam.
  • Ia menebar kecemburuan.

Algoritma

Duh, sebegitu parahkah pengaruh media sosial? Seburuk itukah dampak kemajuan teknologi?

Setidaknya begitulah pesan kuat yang dibawa karya ini. Penulisnya percaya bahwa algoritma media sosial membuat pengguna tanpa sadar mudah dimanipulasi perilakunya selama ia berselancar di dalam platform sosial tersebut.

Algoritmalah yang dengan seksama mengumpulkan data tentang diri Anda, dari sejak login, scrolling, interacting, hingga logout. Selanjutnya, data yang diperoleh dari satu pengguna itu, papar penulis, bakal dibandingkan dengan jutaan pengguna lain, untuk kemudian memunculkan prediksi yang cukup akurat terkait preferensi tindakan individu. Ujungnya, ini adalah statistik, temuan yang bisa ditindaklanjuti untuk misalnya, kepentingan komersil, politis, dan sebagainya.

Ah, paranoid. Begitu mungkin Anda bergumam. Toh ada disclaimer/sanggahan di setiap media sosial, yang menyebutkan semua data bersifat privat dan tak akan dimanfaatkan untuk urusan yang aneh-aneh. Begitu, kan biasanya? Wrong! Mengapa? Ini: karena pengguna akan selalu dianggap sebagai bagian dari produk platform sosial tersebut alih alih sebagai klien yang harus dijaga kerahasiaannya. Kok begitu? Jawabnya clear: demi iklan atau monetisasi. Begitulah alurnya, saudara-saudara!

Modifikasi Perilaku

Tak sampai di situ, model bisnis media sosial sebenarnya layak dipertanyakan. Mengapa? karena di situlah perilaku pengguna secara tidak sadar dimodifikasi dan diarahkan sesuai kebutuhan. Kebutuhan siapa? Yang pasti bukan kebutuhan si pengguna melainkan siapa pun yang awas akan hal ini dan berusaha menangguk keuntungan dari ketimpangan ini. Omong gampangnya, media sosial cenderung memperalat seseorang, sedapat mungkin menjadikannya sebagai konsumen, ladang untuk dikeruk isi dompetnya! Ah, yang bener? Well, itu hak Anda untuk percaya atau tidak percaya.

Oh ya, literasi ini juga mengingatkan bahwa dalam interaksinya di media sosial orang cenderung bertingkah buruk dan berempati rendah. Ini kaitannya dengan kecenderungan perilaku — maaf — brengsek dari sebagian pengguna, yang sering berkomentar seenak wudelnya, mengumpat dengan kasar, merespon secara agresif dan seterusnya.

(Khusus di Indonesia, semakin aneh justru semakin viral, semakin nekad semakin dekat kemungkinan untuk jadi bintang tamu di banyak podcast selebritas).

Mode Hingar Bingar vs Mode Senyap

Interaksi di media sosial membuat seseorang ada dalam “mode hingar bingar”, yang berbeda 180 derajat dengan “mode senyap” tatkala ia berjarak dari ruang sosialnya di dunia maya. Lebih berhati-hati, rileks dan lebih mudah menangkap ide, itulah kondisi saat mode yang belakangan berlangsung dalam diri individu.

Patut dicatat juga bahwa perilaku orang di media sosial dapat berubah karena ia mencari likes, followers, comments, dan sebagainya. Dangkal dan bertopeng, mungkin begitulah istilah paling pas.

Jadi, sekali lagi, sebegitu burukkah dampak media sosial bagi kepribadian seseorang?

Entahlah, setiap orang punya jawaban masing-masing. Tapi setidaknya buku ini dengan lugas menyodorkan cermin. Cermin yang sebaiknya jangan dibelah ketika kita melihat rupa sendiri nampak buruk di sana!

Kutipan Kunci

“Ketagihan perlahan-lahan mengubah seseorang menjadi zombie. Zombie yang bisa didikte.” — Jaron Lanier

“Saat online di sebuah platform dan mendapati ada rasa tak nyaman, rendah diri, dan ingin memaki-maki orang lain, segera tinggalkan situs itu. Sesederhana itu.”

“Kita tak kuasa atau bahkan tak memiliki kemampuan sama sekali untuk mengupayakan situasi online di mana ekspresi kita akan dipahami dengan baik.”

  • Suka dengan ringkasan singkat ini dan merasa ada manfaatnya? Yuk tunjukkan dukungan Anda untuk Pustaka Buku Bekas dalam bentuk donasi.
  • Anda dapat berkontribusi mulai dari lima ribu, tiga ribu, dua ribu rupiah saja. Klik gambar di bawah ini dan yakinlah asupan mental sama pentingnya dengan belanja online. Setuju, kan?
  • Ingin ringkasan yang lebih detil lagi dari buku ini? Silakan lengkapi dan kirimkan formulir di bawah ini sambil berkontribusi mulai dari dua puluh ribu, lima belas ribu, sepuluh ribu rupiah saja per judul. Kami akan menginfokan rekening transfer untuk selanjutnya mengirimkan ringkasan buku langsung ke inbox Anda maksimal lima hari kerja setelah dana terkonfirmasi.

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s