THE END OF JOBS — Money, Meaning and Freedom without the 9-to-5

Ringkasan buku karya Taylor Pearson (2015)

Ide Utama
Rute paling aman dewasa ini untuk meraih kebebasan finansial di dunia yang berubah dengan cepat bukanlah dengan menjadi karyawan melainkan menjadi wirausahawan!

Ringkasan Inti

Penulis buku ini sedari awal mendorong pembaca untuk menjadi pebisnis dan melupakan jalur tradisional meniti karir sebagai pegawai. Alasannya karena mengandalkan gaji di tengah derasnya arus perubahan dunia adalah hal paling riskan terkait kondisi finansial seseorang.

Menanti datangnya slip pendapatan bulanan itu ngeri-ngeri sedap karena Anda tergantung kepada pihak lain, dalam hal ini bos atau tempat Anda bekerja, demikian menurut Pearson. Sekali atasan atau perusahaan merubah kebijakannya, hidup Anda ujug ujug dalam bahaya. Di sisi lain, terlepas menjadi usahawan itu sangat berisiko dan tak ada jaminan berhasil, setidaknya peluang meraih kondisi keuangan yang lebih baik berada dalam genggaman.

Jadi Karyawan Lebih Berat

Seiring dengan globalisasi, kemajuan teknologi dan pesatnya internet, penulis berargumen bahwa pekerjaan reguler semakin redup kilaunya. Yang ironis, persaingan kerja sekarang justru semakin berat, kualifikasi yang diminta kian kompetitif dengan saingan fresh graduates yang membludak dari waktu ke waktu. Ini tentu berakibat pada kemungkinan calon karyawan harus pasrah menerima pendapatan di bawah ekspektasi, minimal dalam sekian bulan pertama.

Pada bagian lain, perekonomian dunia terus bergeser dari yang sifatnya kompetensi dalam satu bidang menuju kemampuan mensinergikan beragam sumber daya dalam bentuk skill orang per orang. Tambahan pula, tenaga manusia terus digantikan oleh mesin, robot, dan segala sesuatu yang serba dijital. Kalau mau blak-blakan, tidakkah ini mengancam masa depan para karyawan? Siapa yang lebih banyak diuntungkan dalam kondisi demikian? Balik lagi, kalau mau fair, jawabnya ya pebisnis.

Unfair Advantage Pengusaha

Apa gara-gara itu orang mesti jadi usahawan semua? Well, barang kali tidak juga. Namun yang jelas, berwirausaha memiliki keuntungan yang tidak imbang bila dibandingkan dengan pegawai. Pebisnis memang berat di awal, tapi sekali yang diusahakannya berhasil ia berpeluang memproyeksikan hidupnya bukan atas dasar lamanya jam kerja dalam sehari melainkan pada seberapa jauh daya ungkit yang dimilikinya.

Ada pun bagi karyawan, umumnya terikat keharusan bekerja 40 jam dalam seminggu. Bila kurang, ada risiko mulai dari potong upah, keluar surat peringatan dan sebagainya. Seiring berjalannya waktu, tenaga yang bersangkutan cenderung loyo sementara yang muda bermunculan, siap menggantikan pendahulunya lengkap dengan kualifikasi yang lebih oke sekaligus bersedia menerima gaji di bawah seniornya.

Lantas, apakah bila seseorang berhasil menjadi pebisnis, itu artinya ia terbebas dari nine to five jobs? Sayang sekali tidak. Justru usahawan dituntut bekerja lebih lama. Sering tak kenal waktu. Namun, sisi baiknya adalah ia mengekpos dirinya pada peluang kebebasan baru yang menantang sekaligus menggairahkan.

Masalahnya, bagaimana cara beralih dari mindset karyawan ke mental pengusaha? Sungguh tak mudah menemukan jawaban yang pas untuk setiap orang. Tapi, penulis literasi ini memberikan dua acuan sebagai berikut:

  • Mulai dengan satu langkah kecil yang konsisten sampai Anda yakin untuk melepaskan pekerjaan.
  • Awali dengan magang, bila mungkin, untuk memperkecil risiko sambil menyerap ilmu sebanyak mungkin.

Kutipan Penting

“Segala sesuatu di sekeliling kita adalah kehidupan yang dirancang oleh orang yang tak lebih pintar dari Anda. Ubahlah itu, letakkan pengaruh Anda dan bangunlah versi kehidupan Anda sendiri yang nantinya dapat digunakan orang lain.”

“Wirausaha adalah kemampuan untuk menghubungkan, menciptakan dan menemukan sistem. Sementara yang namanya pekerjaan adalah seni mematuhi sistem tersebut.”

“Globalisasi dewasa ini bukan sekadar berlanjut melainkan kian cepat melaju. Pada 2020, terdapat 40% lebih banyak orang dalam rentang usia 25-34 tahun dengan pendidikan tinggi di Argentina, Brazil, Tiongkok, India, Indonesia, Rusia, Arab Saudi dan Afrika Selatan ketimbang sebaya mereka di negara-negara OECD (gabungan 34 negara di Eropa Barat dan Amerika Utara).”

Beli langsung buku ini (edisi cetak) di Bukalapak.

  • Suka dengan ringkasan singkat ini dan merasa ada manfaatnya? Yuk tunjukkan dukungan Anda untuk Pustaka Buku Bekas dalam bentuk donasi.
  • Anda dapat berkontribusi mulai dari lima ribu, tiga ribu, dua ribu rupiah saja. Klik gambar di bawah ini dan yakinlah asupan mental sama pentingnya dengan belanja online. Setuju, kan?
  • Ingin ringkasan yang lebih detil lagi dari buku ini? Silakan lengkapi dan kirimkan formulir di bawah ini sambil berkontribusi mulai dari dua puluh ribu, lima belas ribu, sepuluh ribu rupiah saja per judul. Kami akan menginfokan rekening transfer untuk selanjutnya mengirimkan ringkasan buku langsung ke inbox Anda maksimal lima hari kerja setelah dana terkonfirmasi.

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s