Pustaka Klasika: TITIPAN UMAR KAYAM — Sekumpulan Kolom di Majalah Tempo

Dicuplik dari buku Titipan Umar Kayam: Sekumpulan Kolom di Majalah Tempo (halaman 104-107), Cetakan II, Juli 2008

Papan Demokrasi di Rumah Saya

Waktu Gendut, anak saya yang bungsu, mulai dapat menulis dan membaca, habislah seluruh rumah kena bekas cakarannya. Juga semua koran dan majalah habis diganyangnya dengan membacanya keras-keras. Lantai pun tidak pernah sempat bersih karena bekas coretan kapur selalu saja melekat di mana-mana. Begitu juga tembok dan pintu, penuh dengan coretan pensil dan bolpoin.

Mula-mula itu hanya coretan namanya sendiri dalam berbagai versi. Seperti Gendut, gendut, gen-dut, GENDUT dan entah versi yang bagaimana lagi. Lama kelamaan, mungkin karena jenuh dengan namanya sendiri, ia pun mulai ekspansif dengan nama-nama lain. Maka seisi rumah pun tidak bebas dari bekas cakarannya. Mamah, bapak, Mbak, Yanem, Suti semua dapat giliran juga dalam berbagai versi.

Ibunya anak-anak dan Mbak, kakak perempuan Gendut memutuskan untuk membelikan Gendut sebuah papan tulis besar. Maksudnya supaya Gendut dapat berkiprah menulis dan menggambar di papan tulis itu dan tidak di sembarang tempat.

Bapak setuju, ‘kan? Gendut bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas!

Apa yang bisa saya katakan selain “setuju” kepada usul yang begitu brilian dan penuh pengertian terhadap perkembangan anak.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan pun berganti bulan. Papan itu terpancang dengan megahnya di gang antara garasi dan kamar mandi. Papan itu betul-betul menjadi papan Gendut. Apa yang dipelajarinya di sekolah diulanginya di situ. Pelajaran bahasa, berhitung, dan menggambar. Kemudian juga nyanyian dan sajak-sajak. Kemudian juga surat-surat pendek buat Mbak dan kadang-kadang buat Ibunya.

Akan hal saya, ayah yang paling banyak cuma sekali seminggu pulang dari Yogya, agaknya susah mendapatkan coverage di papan itu. Sampai pada suatu saat, bertahun sesudah papan itu ngendon di tembok gang itu, saya melihat nama saya tertulis dengan nyata di situ.

Waktu itu saya sedang terpakai, diikutkan dalam satu produksi film memainkan satu peranan kecil yang tak begitu berarti. Tulisan Gendut di papan itu: UK main film dengan perempuan lain….

Wah! Ini hebat, pikirku. Ini daya pikir kritis. Ini kreatif. Ini keberanian. Ini….

Saya segera memerintahkan kepada ibunya anak-anak agar bakat ini dipupuk. Agar seisi rumah didorong untuk mengekspresikan diri secara kritis.

Pendeknya papan tulis itu mesti menjadi papan demokrasi di rumah ini….

Tahun pun berlalu dengan cepatnya. Gendut sudah kelas lima, Mbak sudah mahasiswi dan saya masih menggelandang dan menggelinding antara Yogya dan Jakarta.

Papan itu pun masih terpancang. Tapi berkembang dan melebar fungsinya. Ia bukan lagi monopoli Gendut. Mbak dan Ibu mereka sudah ikut-ikutan memanfaatkannya. Buat pesan-pesan, instruksi-instruksi, dan sekali tempo juga protes kecil-kecilan.

Pesan dan instruksi itu tntu saja lewat jenjang birokrasi yang berlaku di rumah. Dari ibu ke anak ke pembantu, dari kakak ke adik kepembantu, dari adik ke pembantu.

Akan protes-protes kecil itu? Mula-mula cuma dari Gendut buat Mbak. Kalau Mbak tidak mau membantu menggarap pekerjaan rumahnya Gendut akan menulis: Mbak sok! Kalau Mbak tidak mau membagi sedikit dari uang jajannya tulisan itu akan berbunyi Mbak pelit!

Tapi kemudian Mbak jadi gatal membalas protes adiknya. Biarin; emangnya kenapa; Ini uang jajan kita sendiri dan sebagainya lagi.

Eh, kemudian ibunya ikut-ikut latah memakai papan itu buat berpolemik dengan anak-anaknya. Tentu saja anaknya yang memulai. Konkretnya Gendut dulu yang memulai. Mamah kalau pulang kerja terlalu sore! Gak bawa oleh-oleh lagi! Agaknya lama kelamaan ibunya jadi jengkel. Maka dibalasnya protes anak-anaknya. Kalau gak mau Mamah pulang sore-sore harus mau kurang makan! Mau nggak kurang uang makan dan uang jajan?

Tentu saja itu kurang adil. Tentu saja ibunya yang bakalan menang dengan polemik berbau intimidasi begitu. Tapi toh saya masih bisa menganggapnya lucu. Setidaknya papan itu jadi papan demokrasi yang riuh. Ini kehidupan demokrasi yang sehat, pikirku, biar pun kemudian saya akhirnya kena giliran kesrempet juga. Pak, seafood, Pak! Sudah lama nggak makan di luar! Uang jajan naikin dong, Pak! UK, masih sayangkah U sama G dan Mb.? Ke Ancol yuk!

Mula-mula saya merasa senang diseret ke dalam klub polemik itu. Tapi kemudian saya jadi melihat sesuatu yang aneh dengan tulis-menulis di papan demokrasi ini. Eh, anak-anakku kok tidak atau kurang bicara langsung lagi sama orang tuanya. Minta dan protes yang rutin saja kok mesti tertulis. Minta dan ngomel langsung kenapa, sih?

Wah, ini ekses “Revolusi Gutenberg”, revolusi mesin cetak yang sudah mengubah wajah keluarga. Anak-anakku sudah masuk “tata surya Gutenberg”, the Gutenberg Galaxy, yang dengan kejamnya telah membuyarkan ikatan primordial puak karena semua anggota keluarga asyik membaca dan menulis. Hingga mereka tidak mau mengobrol lagi. Setidaknya begitulah menurut Marshall McLuhan.

Wah, ini mesti diakhiri. Obrol-mengobrol mesti dikembalikan. Makna kata-kata secara verbal mesti dikukuhkan kembali dalam keluarga. Bayangkan kalau keluarga cuma terdiri dari anggota yang tulis menulis dngan sadisnya!

Kesempatan itu datang pada suatu hari di papan demokrasi itu juga!

Waktu itu hari Minggu pagi. Seperti biasa seisi rumah bangun siang. Waktu saya jalan keluar dari kamar mandi begitu saja terlihat tulisan itu. Ndoro, karena kenop dan gaji 14 sudah lama lewat muhun janji kenaikan gaji kami dilaksanakan. Yanem dan Suti.

Mata saya terbeliak tidak percaya. Dari mana mereka bisa berbahasa Indonesia gaya koran begitu. Pasti ada yang menggerakkan dari luar. Saya tersinggung. Saya merasa diejek, di-enyek, bahkan dihina. Protes itu sudah cukup menyakitkan hati. Tapi lebih dari itu, bagaimana mereka berani memakai papan demokrasi majikan mereka? Itu sudah keterlaluan!

Maka seluruh isi rumah segera saya kumpulkan Minggu siang itu. Dekrit pun saya turunkan! Papan demokrasi harus segera diturunkan hari itu juga. Protes, polemik, sindir-menyindir, surat-menyurat tidak diperkenankan lagi lewat papan demokrasi. Kalau ada ketidakpuasan salurkan itu lewat usul yang sopan kepada Ibu — lembaga kita yang sah. Selesai. Papan demokrasi selesai.

Waktu kemudian saya mencukur kumis di depan kaca, saya melihat dan mendengar saya sendiri mnggumam: Deng Xiao-Ping, saya mengerti sekarang kenapa kau tutup tembok kebebasanmu di Beijing….

Beli edisi cetak buku ini di Bukalapak.

  • Suka dengan petikan buku ini dan merasa ada manfaatnya? Yuk tunjukkan dukungan Anda untuk Pustaka Buku Bekas dalam bentuk donasi.
  • Anda dapat berkontribusi mulai dari lima ribu, tiga ribu, dua ribu rupiah saja. Klik gambar di bawah ini dan yakinlah asupan mental sama pentingnya dengan belanja online. Setuju, kan?

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s