BICARA ITU ADA SENINYA — Rahasia Komunikasi yang Efektif

Ringkasan buku karya Oh Su Hyang (2018)

Ide Utama

Jika dalam musik ada istilah “buta nada”, maka dalam komunikasi dikenal ungkapan “buta ucapan”. Mereka yang masuk dalam golongan ini, demikian kata penulis,  adalah individu yang cenderung merusak suasana dengan perkataan yang tidak sesuai dengan tempatnya.

Karya ini menggarisbawahi pandangan bahwa berbicara itu ada seninya, bukan asal cakap seenaknya. Cuma ya itu, hanya segelintir saja yang mau paham soal ini karena orang umumnya beranggapan bahwa berbicara itu bawaan lahir.

Ringkasan Inti

Oh Su Hyang, pakar komunikasi di Negeri Ginseng, dengan gamblang mengungkapkan di sini beragam tips dan trik agar komunikasi antarindividu menjadi efektif sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara.

Tak Ada Kesempatan Kedua

Dalam Bab Satu, ditekankan pentingnya kesan pertama dalam sebuah conversation. Ingatlah, tak ada kesempatan kedua dalam percakapan. Siapa yang sanggup menebarkan kesan positif sejak awal, dialah yang bakal diuntungkan.

Menatap mata lawan bicara adalah salah satu kunci interaksi lisan yang berkualitas. Selain itu, logika berbicara juga harus diperhatikan dan diusahakan runut. Gunakan diksi atau pilihan kata yang sederhana agar ucapan mudah dimengerti. Plus lakukanlah komunikasi dengan bercerita agar apa yang ingin diutarakan masuk ke dalam hati yang diajak bicara.

Pertanyaan, Pujian, Reaksi.

Di Bab Dua, literasi ini menjabarkan rumus bahwa komunikasi yang berhasil akan selalu melibatkan tiga hal: pertanyaan, pujian, dan reaksi.

Anda harus mau bertanya saat bercakap-cakap karena ini adalah bentuk ketertarikan terhadap lawan bicara. Tak usah pertanyaan rumit. Cukup yang ringan-ringan saja, misalnya, Habis potong rambut, ya? atau Gimana kantor hari ini?

Selain itu, cobalah gulirkan pujian kepada teman bicara karena pada dasarnya manusia suka dipuji. Katakan, misalnya, Kulitmu mulus sekali! atau Kacamata baru, nih!

Apa lagi rahasia percakapan yang perlu diketahui awam?

Hmm… masih banyak.

Diantaranya adalah tertawa tiap dua puluh menit sekali. Ini tentu berlaku ketika interaksi berlangsung cukup lama. Sasarannya jelas, agar percakapan tetap cair. Dua puluh menit di sini tentu fleksibel dan tergantung situasi.

Selain itu, menyimak juga tidak kalah penting. Ini tentu berkaitan dengan kemauan untuk mendengarkan uneg-uneg lawan bicara. Betapa banyak percakapan sehari-hari menjadi boring dan percuma karena hanya berjalan satu arah. Satu pihak nyerocos terus tanpa sedikit pun memberi kesempatan orang di depannya mengungkapkan isi hatinya!

Persuasif

Bab Tiga buku ini membahas strategi perlunya membuat orang lain berpihak kepada kita sesaat setelah kita menyampaikan pernyataan. Di sini, menggunakan kata kunci atau diksi yang kuat akan membuat lawan bicara sepaham dan berada di pihak yang sama dengan si penutur. Hal demikian akan sangat terasa saat wawancara kerja, kegiatan marketing atau diskusi yang bersifat persuasif.

Bahan Renungan

Satu yang pasti, komunikasi lisan yang efektif perlu dilatih dan diusahakan. Setidaknya, penulis mencatat ada sepuluh aturan yang bisa jadi bahan renungan bersama, yang didapatnya dari seorang pembawa acara televisi terkenal di Korea Selatan. Berikut ini beberapa di antaranya:

– Jangan bergunjing karena ini tidak etis dan sangat buruk.

– Memonopoli pembicaraan hanya akan memperbanyak musuh. Bicara sedikit saja dan perbanyaklah mendengar.

– Semakin tinggi intonasi suara, makna ucapan akan semakin terdistorsi. Suara yang rendah justru memiliki daya persuasi tinggi.

– Berkata-kata yang menenangkan hati, bukan sekadar yang enak didengar.

– Katakan yang ingin didengar lawan bicara.

– Bicarakan hal-hal yang menyenangkan, bukan yang menyebalkan.

– Jangan hanya berujar dengan lidah, tapi libatkan juga mata dan ekspresi tubuh.

– Tiga puluh detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati. Sepatah kata yang kita ucapkan mungkin saja akan mengubah kehidupan seseorang.

– Jangan berbicara sembarangan dan bertanggung jawablah  atas apa yang sudah Anda ucapkan.

Kutipan Penting

“Berbicaralah seperti orang yang Anda impikan. Berbicaralah dengan antusias dan bertingkah seolah Anda telah sukses. Mulai sekarang, berbicara sambil membayangkan Anda segera sukses, maka tak lama lagi impian Anda akan terwujud.”

“Dalam dialog, ada ‘Aturan 1-2-3’: sekali berbicara, dua kali mendengarkan, tiga kali memberi umpan balik.”

“Saat memperkenalkan produk, hindari menyebutkan nilai, statistik, komposisi dan karakteristik produk. Gantilah itu semua dengan cerita yang kuat.”

Beli edisi cetak buku ini di Gramedia.

Beli edisi cetak buku ini di Bukalapak.

Beli edisi cetak buku ini di blibli.

  • Suka dengan ringkasan singkat ini dan merasa ada manfaatnya? Yuk tunjukkan dukungan Anda untuk Pustaka Buku Bekas dalam bentuk donasi.
  • Anda dapat berkontribusi mulai dari lima ribu, tiga ribu, dua ribu rupiah saja. Klik gambar di bawah ini dan yakinlah asupan mental sama pentingnya dengan belanja online. Setuju, kan?

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s