DOSA-DOSA ORANG TUA TERHADAP ANAK

Ringkasan buku karya Neng Anggia (2019)

Ide Utama

Mungkin cerita seputar anak yang durhaka kepada orang tua sudah lama mengendap dalam pikiran kita. Kisah Malin Kundang adalah salah satu yang paling populer dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nah, yang sering kali luput dari perhatian khalayak adalah dosa orang tua kepada anak-anaknya.

Dibalut dalam kisah keseharian, buku ini mengungkap apa saja kesalahan orang tua dalam mendidik keturunannya mulai dari dalam kandungan hingga mereka remaja dan beranjak dewasa. Layak jadi koleksi perpustakaan pribadi!

Ringkasan Inti

Anak adalah amanah dari Tuhan yang wajib diberikan pengayoman setiap saat. Namun, dalam perjalanan mendidik titipan-Nya itu, orang tua sering dihadapkan pada berbagai tantangan, tak jarang konflik dan bahkan krisis. Atas nama cinta, sadar atau tidak, terkadang mereka justru mengorbankan kebahagiaan anak.

Nah, kehadiran karya ini mengajak orang tua serta calon orang tua bercermin. Anak memang bisa berdosa pada orang tua. Tapi, hal sebaliknya pun bisa terjadi.

Dosa saat anak dalam kandungan

Saat janin sedang tumbuh dalam rahimnya, banyak calon ibu yang mengalami morning sickness melewatkan makan karena berbagai alasan. Dalam kutub yang berlawanan, tidak sedikit juga ibu hamil yang karena ngidam tanpa disadari makan berlebihan. Katanya sih itu kemauan si jabang bayi!

Lepas dari urusan makanan, mengonsumsi obat secara serampangan atau malah berlebihan menelan vitamin juga sering terjadi. Selain itu, perempuan yang sedang mengandung sering dilaporkan mengalami kelelahan fisik maupun psikis dengan beragam penyebabnya. Stres adalah salah satu di antaranya dan, tentu saja, ini dapat dirasakan oleh sang jabang bayi dan bisa jadi mempengaruhi pertumbuhannya.

Saat persalinan tiba, banyak wanita menghindari persalinan normal karena takut sakit. Operasi sesar dipilih sebagai gantinya karena dirasa lebih mudah dan praktis. Padahal, pemulihannya lebih sulit dan lama. Belum lagi kesulitan yang timbul saat menyusui serta potensi timbulnya infeksi.

Dosa semasa mengasuh anak

Begitu selesai persalinan, sudah jadi rahasia umum banyak ibu  enggan menyusui dan mengurus bayinya. Bila alasannya karena ASI  tak keluar, ini cerita lain. Atau karena sang ibu sakit sehingga tak bisa mengurus anaknya secara langsung, ini pun masih bisa dimaklumi.

Kerap juga terdengar keluhan sang ibu baru merasa tak sanggup mengurus anaknya. Inilah fenomena baby blues, yang dapat berubah menjadi depresi pascapersalinan bila tak segera diatasi.

Tak sampai di situ, daftar kesalahan itu masih bisa ditambah lagi, mulai dari mengunggulkan jenis kelamin bayi laki-laki karena alasan personal maupun tradisional, menanamkan karakter  bias gender yang mensubordinasi anak perempuan, sampai menganggap mengasuh anak semata-mata urusan istri karena suami sibuk mencari nafkah.

Selanjutnya, dalam pengasuhan anak kerap ditemukan kasus kekerasan, baik fisik maupun psikis yang dilakukan orang terdekat. Banyak orang tua yang gampang main tangan ketika marah kepada anak, membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lainnya, menggunakan ancaman dan seterusnya. Apa yang oleh orang tua dianggap sebagai bentuk pendisiplinan ternyata meninggalkan luka mendalam dalam batin sang anak.

Tiga renungan

Apa lagi dosa orang tua terhadap anak?

Tak hendak mengungkapnya lebih jauh. Biarlah penulis buku ini saja yang memaparkan semuanya. Yang jelas, dalam mengasuh putra-putrinya, tiga hal berikut ini layak jadi bahan renungan orang tua dan calon orang tua:

Aku aman bagimu: orang tua harus menunjukkan kepada anak bahwa keberadaannya akan memberikan rasa aman dan kehadirannya bukan ancaman.

Aku menyenangkan bagimu: orang tua harus memperlihatkan kepada anak-anaknya bahwa ia memiliki cara yang menarik dan menyenangkan dalam mendidik mereka serta menjadi sahabat tempat berkeluh kesah.

Aku bermanfaat bagimu: orang tua harus memudahkan dan memfasilitasi tumbuh kembang anak sehingga semua buah hatinya merasakan pentingnya kehadiran sosok fasilitator di rumah.

Kutipan Penting

“Jangan menganggap anak ibarat tong kosong dan orang tua bebas mengisinya dengan apa saja.”

“Sejak kecil, anak-anak harus dibekali dengan konsep Tuhan.”

“Selama ini kita selalu berpikir bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang mnguasai matematika, IPA, atau ilmu-ilmu yang menggunakan otak kiriโ€ฆ Padahal, kecerdasan itu sebenarnya majemuk dan banyak segi.”

  • Suka dengan ringkasan singkat ini dan merasa ada manfaatnya? Yuk tunjukkan dukungan Anda untuk Pustaka Buku Bekas dalam bentuk donasi.
  • Anda dapat berkontribusi mulai dari lima ribu, tiga ribu, dua ribu rupiah saja. Klik gambar di bawah ini dan yakinlah asupan mental sama pentingnya dengan belanja online. Setuju, kan?

Beli versi e-book di Gramedia Digital.

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s