CERDAS MEMILIH INVESTASI — 101 Kecerdasan yang Harus Dimiliki Sebelum Berinvestasi

Ringkasan buku karya Heru Susanto (2012)

Ide Utama

Biarkan uang bekerja untuk Anda, dan bukan Anda yang bekerja untuk uang, begitu sering kita dengar. Ini benar, tentu saja.

Cuma masalahnya, tidak mudah untuk mencapai level tersebut karena di situ orang mesti piawai membiakkan duit, lihai sebagai investor. Dan ini berarti yang bersangkutan mesti berkomitmen dan setahap demi setahap mendongkrak kecerdasan keuangannya.

Hmmโ€ฆadakah jalan pintasnya? Well, mungkin tidak ada. Tapi, coba saja baca buku setebal hampir 300 halaman ini, yang memuat 101 tips seputar kecerdasan dalam memilih investasi.

Ringkasan Inti

Imbal hasil investasi (return) yang diterima investor akan selalu berbanding lurus dengan risiko dan jumlah dana yang diinvestasikannya. Ini hal paling mendasar yang harus dipahami oleh mereka yang ingin menggeluti ragam produk pasar keuangan.

Sedari awal penulis menekankan agar kita mencoret  segala tawaran memutar uang dengan iming-iming imbalan besar jika itu dipromosikan sebagai tanpa risiko. Lupakan juga peluang investasi uang kecil guna mengail hasil yang fantastis!

Nah, secara acak, berikut ini beberapa dari 101 poin kecerdasan investasi menurut literasi ini:

Tiga pilar

Penulis kondang Brian Tracy pernah menyatakan bahwa ada tiga pilar untuk meraih kebebasan finansial:  tabungan – asuransi – investasi.  Urut-urutan ini tidak boleh dibolak-balik. Punyai dulu tabungan yang cukup sebelum membeli asuransi, dan miliki dulu tabungan dan asuransi sebelum  berinvestasi.

Mengapa demikian?

Ya karena mengabaikan yang sebelumnya akan membuat runyam yang selanjutnya. Menebus polis untuk mendapatkan uang tunai adalah tindakan bunuh diri finansial dan harus dihindari. Dus, tabungan, asuransi dan investasi tak usah dibanding-bandingkan mana yang lebih unggul karena ketiganya saling melengkapi.

Masih terkait dengan itu, penulis menyodorkan sembilan kiat menabung yang benar. Ini garis besarnya:

a. Tetapkan target berapa besar tabungan yang diinginkan dan kapan itu terwujud.

b. Sematkan alasan kuat mengapa harus menabung. Mungkin ingin bebas utang, beli motor anyar, uang muka mobil baru, dan sebagainya.

c. Sisihkan dan bukan sisakan. “Selamatkan” dulu jatah tabungan setelah menerima gaji dan baru gunakan sisanya.

d. Lakukan secara rutin, tak usah menunggu momen ini itu karena makin cepat dilakukan makin baik.

e. Tabunglah dengan jumlah tetap atau semakin besar dari waktu ke waktu, bukan semakin kecil.

f. Lupakan akses ATM, semakin sulit uang Anda diakses dengan cepat, semakin kecil peluang tabungan tergerus.

g. Variasikan dalam bentuk natura bila suka, tabungan tak harus dalam bentuk uang. Bisa dalam bentuk emas batangan atau apa pun yang dirasa likuid.

h. Usahakan jangan diambil sebesar apa pun dorongan yang muncul. Bila berbentuk natura seperti pada poin di atas, jangan pernah diuangkan dan cukup dibawa ke pegadaian bila sangat mendesak. Yup, Anda bakal berutang dengan barang sebagai jaminan. Tapi setidaknya, aset masih milik Anda walau statusnya sedang tergadai. Dan pastikan jangan meminjam lebih dari kemampuan bayar Anda.

i. Lakukan sekarang!

Empat kunci pengeluaran bijak

Lebih jauh, mengutip miliarder Malaysia Azizi Ali, karya ini menyodorkan empat kunci pengeluaran yang bijak, yaitu:

Pengeluaran wajib, seperti untuk sandang, pangan, dan papan.

Pengeluaran penting, yang berhubungan dengan peningkatan kualitas hidup seperti buku, pemanas air, dan sebagainya.

Pengeluaran bagus, yang berkaitan dengan pengembangan keakraban dalam keluarga seperti menonton sebulan sekali atau memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu.

Pengeluaran tidak berguna, yang tidak menambah nilai atau keuntungan hidup kita dalam cara yang positif. Ini banyak macamnya dan Anda bisa mengira-ngiranya sendiri.

Lha terus investasi masuk pengeluaran yang mana? Jawabnya, ini bukan pengeluaran wajib bagi mereka yang masih berkutat dengan kebutuhan dasar. Alokasi investasi dapat dikategorikan sebagai pengeluaran penting, begitu kata penulis.

Aturan 72

Yuk, simak ilustrasi seputar uang atau value of money berikut:

Jika pada 2012 Anda punya uang Rp 100 juta, dengan inflasi tahunan sebesar 6%, maka dalam 12 tahun duit Anda amblas dimakan inflasi. Kok begitu? Pakai rumus ini, 72/6=12. Di sisi lain, dengan net imbal hasil bank, misalnya 9,6%, maka dalam tempo 7,5 tahun uang yang disimpan di sana akan berlipat dua. Ini didapat dari 72/9,6=7,5.

Apa yang bisa disimpulkan dari sini?

Sederhana saja, 72 = n x i, dimana

n adalah waktu (dalam tahun) dan

i adalah suku bunga atau inflasi (dalam persen per tahun)

Keluarlah dari Balap Tikus (Rat Race)

Seekor tikus berlari terus-menerus di dalam kandang tanpa pernah mencapai tujuannya karena ia berada di atas roda yang selalu berputar akibat gerakan kakinya. Ini adalah analogi yang pas bagi orang yang bekerja keras mencari uang untuk dihabiskan kemudian bekerja lagi lalu dihabiskan lagi โ€ฆ untuk selanjutnya bekerja lagi dan seterusnya. Pekerjaan rutin “nine to five” adalah contohnya.

Gambarannya, kerja banting tulang sementara gaji cuma lewat dan nyaris tak ada yang bisa disimpan. Mungkin karena sang individu terjebak lemahnya komitmen akan kesejahteraan di masa depan atau merasa aman dengan karir.  Ketergantungan akan pekerjaan semakin tinggi dari waktu ke waktu, seiring bertambahnya tanggung jawab dalam keluarga maupun tuntutan keinginan untuk menyelaraskan gaya hidup masa kini. Begitu terus, tak ada satu pun yang diubah menjadi aset. Situasi demikian sangat toksik dan mutlak dihindari.

Waspadai Skema Ponzi

Apa lagi yang termasuk dalam kecerdasan investasi?

Masih sangat banyak.  

Salah satu di antaranya adalah kemampuan mengantisipasi jebakan money game.

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), money game adalah kegiatan pengumpulan uang atau menggandakan uang di mana pemberian bonus atau komisi diambil dari perekrutan anggota baru dan bukan dari penjualan produk. Kalau pun ada penjualan produk, itu hanya kamuflase. Di Amerika Serikat, penipuan ini marak sejak Perang Dunia I usai, yang diperkenalkan oleh Charles Ponzi dan sekarang biasa disebut Skema Ponzi.

Kutipan Penting

“Anda perlu memiliki alasan kuat untuk menjadi investor. Tanpa itu, mustahil Anda bisa bertahan.”

“Setiap hari Anda memiliki 86,400 detik yang harus dihabiskan, tidak bisa disimpan, tidak bisa ditabung. Jika lewat harinya, jumlah tersebut sudah hilang, tidak bisa kembali.”

“Sebagai investor, Anda bisa meniru Michael Angelo, seniman besar yang membuat patung David. Buang semua yang bukan David dari patungnya. Buang semua yang bukan investasi.”

  • Suka dengan ringkasan singkat ini dan merasa ada manfaatnya? Yuk tunjukkan dukungan Anda untuk Pustaka Buku Bekas dalam bentuk donasi.
  • Anda dapat berkontribusi mulai dari lima ribu, tiga ribu, dua ribu rupiah saja. Klik gambar di bawah ini dan yakinlah asupan mental sama pentingnya dengan belanja online. Setuju, kan?

Beli versi e-book di Gramedia Digital.

Beli edisi cetak buku ini di Bukalapak.

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s