Pustaka Klasika: SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA

Dicuplik sekilas dari kumpulan cerpen karya Agus Noor, diterbitkan oleh Bentang (halaman 153-166), Jogjakarta 2010

Perihal Orang Miskin yang Berbahagia

–1
“Aku sudah resmi jadi orang miskin,” katanya, sambil memperlihatkan Kartu Tanda Miskin, yang baru diperolehnya dari Kelurahan. “Lega rasanya karena sudah bertahun-tahun hidup miskin akhirnya mendapat pengakuan juga.”

Kartu Tanda Miskin itu masih bersih, licin, dan mengilat karena dilaminating. Dengan perasaan bahagia, ia menyimpan kartu itu di dompetnya yang lecek dan kosong.

“Nanti, bila aku ingin berbelanja, aku tinggal menggeseknya.”

–2
Diam-diam aku suka mengintip rumah petak orang miskin itu. Ia sering duduk melamun, sementara anak-anaknya yang dekil bermain riang menahan lapar. “Kelak mereka pasti akan menjadi orang miskinyang baik dan sukses,” gumamnya.

Suatu sore, aku melihat orang miskin itu menikmati teh pahit bersama istrinya. Kudengar orang miskin itu berkata, “Ceritakan kisah paling lucu dalam hidup kita….”

“Ialah ketika aku dan anak-anak begitu kelaparan, lalu menyembelihmu,” jawab istrinya.

Mereka pun tertawa.

Aku selalu iri menyaksikan kebahagiaan mereka.

–3
Orang miskin itu dikenal ulet. Ia mau bekerja serabutan apa saja. Jadi tukang becak, kuli angkut, buruh bangunan, pemulung, atau tukang parkir. Pendeknya, siang malam ia membanting tulang, tetapi alhamdulillah tetap miskin juga. “Barangkali aku memang run-temurun dikutuk jadi orang miskin,” ujarnya, tiap kali ingat ayahnya yang miskin, kakeknya yang miskin, juga simbah buyutnya yang miskin.

Ia pernah mendatangi dukun berharap bisa mengubah garis buruk tangannya. “Kamu memang punya bakat jadi orang miskin,” kata dukun itu. “Mestinya kamu bersyukur karena tidak setiap orang punya bakat miskin seperti kamu.”

Kudengar, sejak itulah, orang miskin itu berusaha konsisten miskin.

–4
Pernah dengan malu-malu, ia berbisik kepadaku. “Kadang bosan juga aku jadi orang miskin. Aku pernah berniat memelihara tuyul atau babi ngepet. Aku pernah juga hendak jadi pelawak agar sukses dan kaya,” katanya. “Kamu tahu kan, tak perlu lucu jadi pelawak. Cukup bermodal tampang bego dan mau dihina-hina.”

“Lalu kenapa kau tak jadi pelawak saja?”

Ia mendadak terlihat sedih, lalu bercerita. “Aku kenal jadi orang miskin yang jadi pelawak. Bertahun-tahun ia jadi pelawak, tetapi tak pernah ada yang tersenyum menyaksikannya di panggung. Baru ketika ia mati semua orang tertawa.”

–5
Orang miskin itu pernah kerja jadi badut. Kostumnya rombeng dan menyedihkan. Setiap menghibur di acara ulang tahun, anak-anak yang menyaksikan atraksinya selalu menangis ketakutan.

“Barangkali kemiskinan memang bukan hiburan yang menyenangkan bagi anak-anak, ujarnya membela diri ketika ia akhirnya dipecat jadi badut.

Kadang-kadang, ketika merasa sedih dan lapar, orang miskin itu suka menghibur diri di depan kaca dengan gerakan-gerakan badut paling lucu yang tak pernah bisa membuatnya tertawa.

–6
Orang miskin itu akrab sekali dengan lapar. Setiap kali lapar berkunjung, orang miskin itu selalu mengajaknya berkelakar untuk sekadar melupakan penderitaan. Atau, sering kali, mengajak lapar bermain teka-teki untuk menghibur diri. Ada satu teka-teki yang selalu diulang-ulang setiap kali lapar datang bertandang.

“Hiburan apa yang paling menyenangkan ketika lapar?” Dan orang miskin itu akan menjawabnya sendiri. “Musik keroncongan.”

Dan lapar akan terpingkal-pingkal sambil menggeluti perutnya.

–7
Yang menyenangkan, orang miskin itu memang suka melucu. Ia kerap menceritakan kisah orang miskin yang sukses kepadaku. “Aku punya kolega orang miskin yang aku kagumi,” katanya. “Dia merintis karir jadi pengemis untuk membesarkan empat anaknya. Sekarang satu anaknya di ITB, satu di UI, satu di UGM, dan satu lagi di UNDIP.”

“Wah, hebat banget! ujarku. “Semua kuliah, ya?”

“Tidak, semua jadi pengemis di kampus itu.”

–8
Orang miskin itu sendiri punya tiga anak yang masih kecil-kecil. Paling tua berumur 8 tahun, dan bungsunya belum genap 6 tahun. “Aku ingin mereka juga menjadi orang miskin yang baik dan benar sesuai ketentuan undang-undang. Setidaknya bisa mengamalkan kemiskinan mereka secara adil dan beradab berdasarkan Pancasila dan UUD 45,” begitu ia sering berkata, yang kedengaran seperti bercanda. “Itulah sebabnya aku tak ingin mereka jadi pengemis!”

Tapi, sering kali kuperhatikan ia begitu bahagia ketika anak-anaknya memberinya recehan. Hasil dari mengemis.

  • Suka dengan petikan buku ini dan merasa ada manfaatnya? Yuk tunjukkan dukungan Anda untuk Pustaka Buku Bekas dalam bentuk donasi.
  • Anda dapat berkontribusi mulai dari lima ribu, tiga ribu, dua ribu rupiah saja. Klik gambar di bawah ini dan yakinlah asupan mental sama pentingnya dengan belanja online. Setuju, kan?

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s