CONSUMER MEGASHIFTS 100 POST-PANDEMIC

Ringkasan buku karya Yuswohady, dkk, 432 halaman, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2021.

Ide Utama

Pandemi COVID-19 telah membuat semua orang hidup dalam ketidakpastian dan terus dibayangi kecemasan.

Dalam kaitannya dengan konsumsi, survei McKinsey menemukan bahwa masyarakat Indonesia berubah dengan cepat dan drastis menjadi lebih berhati-hati. Kesemuanya itu menyebabkan guncangan baik di sisi konsumen sendiri maupun di sisi marketers.

Ringkasan Inti

Pandemi sungguh mengobrak-abrik lanskap bisnis: dari era “leisure economy” jadi “pandemic economy”, dari globalization menjadi localization dan nationalism, dari mobile lifestyle ke stay-at-home lifestyle, dari “digital is important” menjadi “digital is survival” dan sebagainya.

Nah, setiap kita, yang pada dasarnya adalah marketer dalam lingkupnya masing-masing, mutlak mengetahui perubahan perilaku  konsumen tersebut. Penulis menyodorkan empat fenomena mendasar sehubungan dengan pergeseran itu dan menyebutnya sebagai The 4 Consumer Megashifts.

Megashift #1: Stay @ Home Lifestyle

Di era pandemi ini, ungkapan “home sweet home” menemukan rohnya. Seluruh anggota keluarga disatukan kembali karena semua aktivitas berpusat di rumah.

Working @ home

Schooling @ home

Shopping @ home

Entertainment @ home

Medication @ home

Praying @ home

... and everything @ home

Megashift #2: Back to the Bottom of the Pyramid

Bila sebelumnya kebutuhan individu modern umumnya didominasi oleh self-actualization dan self-esteem, kini kebutuhan mereka kembali ke dasar, back to basic: makan dan minum, kebutuhan kesehatan dan keselamatan, dan kebutuhan akan interaksi, dalam hal ini terkait dengan koneksi internet.

Di sisi lain, pandemi memunculkan rasa takut: takut mati (fear of death), takut kehilangan pekerjaan dan penghidupan (fear of economic), dan takut tak bisa beraktualisasi (fear of actualization).

Yang paling kelihatan dan disruptif adalah di satu sisi banyak industri berguguran sementara di sisi lain tak sedikit bisnis baru bermunculan.

Megashift #3: Go Virtual

Pandemi memaksa kita untuk go digital sehingga aktivitas keseharian kini beralih menjadi virtual dengan sesedikit mungkin persentuhan fisik. Tidak ada jalan lain.

Di masa awal pandemi, kita tak sanggup membayangkan bisa bekerja dari rumah melalui beragam aplikasi. Setidaknya, begitulah menurut kaum “kolonial” alias Gen-X dan Baby Boomers. Seiring berjalannya waktu, sebagian besar orang dapat menerima kebiasaan baru tersebut dan berkomitmen untuk terus melakukannya ke depan.

Dalam bahasa penulis, “after pandemic, every customer is now a virtual customer”.

Megashift #4: Emphatic Society

Krisis COVID-19 adalah bencana kemanusiaan paling dahsyat abad ini yang memakan jutaan korban manusia. Pandemi ini sejatinya memuat dual-crisis: krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Selain itu, pada titiknya yang paling dalam, pandemi ini menghadirkan rasa senasib sepenanggungan yang melahirkan tujuan bersama (common goal) untuk menghadapinya. Empati dan kepedulian sosial pun meningkat seiring menebalnya solidaritas pada sesama, setidaknya begitulah secara kasat mata.

Ragam Aktivitas Post-Pandemi

Menukik lebih dalam, literasi ini menyodorkan seratus perubahan perilaku konsumen di era kenormalan baru, yang merupakan terjemahan dari empat megashifts di atas. Beberapa yang patut dicatat di antaranya adalah:

– Asuransi terutama kesehatan dan jiwa menjadi keharusan.

– Hubungan keluarga menjadi lebih erat.

– Kepedulian akan kesehatan tumbuh dengan meningkatnya perilaku yang terkait personal hygiene.

– Kebiasaan makan berubah dari kecenderungan konsumsi di luar menjadi masak di rumah.

Flexible working hour menjadi kenormalan baru di mana batas  antara bekerja, mengurus keluarga/ mengasuh anak serta bermain nampak tumpang tindih atau berbaur satu sama lain.

– Orang semakin memilih tinggal di pinggiran sehingga kota menjadi lebih tidak padat atau malah cenderung ditinggalkan.

– Kota tak semenarik dulu karena orang-orang menghindari hiruk pikuk.

Remote working menjadi prioritas.

– Pandemi membuat langit di kota-kota besar menjadi biru karena berkurangnya polusi udara dan terbatasnya aktivitas pabrik.

– Penggunaan moda transportasi massal seperti MRT, LRT, atau commuter line berkurang.

– Konsep localized city berkembang di mana kebutuhan warga suatu kota dipenuhi dari lingkungan sekitarnya hingga cukup berjalan kaki atau bersepeda.

– Mobil atau kendaraan pribadi menemukan momentumnya kembali karena dianggap relatif lebih aman dari serangan COVID-19.

– Minat untuk berkebun dan bertanam meningkat pesat dalam bentuk hidroponik, vertical garden, kitchen garden dan sebagainya.

– Kecurigaan antarwarga meningkat seiring munculnya low-trust society.

– Potensi kriminalitas meningkat.

– Tata cara ibadah mengalami perubahan dan perlahan menjadi tren umum dalam masyarakat.

Digital banking berkembang pesat.

– Penggunaaan uang fisik berkurang dan beralih pada cashless payment.

Zoom fatigue akibat jadwal meeting online yang tak terkendali.

– Jam belajar mengajar menjadi lebih pendek namun beban tugas cenderung bertambah.

Staycation berkembang dan menjadi pilihan baru para pelancong.

– Pekerja lepas dijital/digital nomad bermunculan.

– Bepergian dengan pesawat terbang menjadi mahal dan merepotkan.

So, welcome to the New World…

Very Happy New Year, everyone!

Beli edisi cetak di Gramedia.

Beli edisi cetak di Bukalapak.

Beli edisi cetak di Blibli.

Tulis komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s