WIDYAWATI

Judul: Widyawati, 230 halaman.

Penulis: Arti Purbani.

Penerbit: Balai Pustaka, Cetakan Ketujuh, 2001.

Review: Penasaran dengan kumpulan cerita pendek jadul karya penulis lokal?

Mau tahu serba-serbi kisah roman berlatar Jawa klasik era ’40-an?

Kalau ya, buku ini sebaiknya jangan dilewatkan!

Terlebih lagi, penulisnya dengan intens menjadikan perempuan sebagai tokoh utama dalam setiap cerita. Nuansa eksotis  terasa mulai dari halaman pertama!

(more…)

GERPOLEK— Gerilya-Politik-Ekonomi

Judul: Gerpolek— Gerilya-Politik-Ekonomi, 139 halaman.

Penulis: Tan Malaka, terbit pertama kali Mei, 1948.

Penerbit: Narasi, Jogjakarta, 2018.

Review: Sering dikatakan bahwa orang yang meringkuk di penjara mentalnya menjadi lebih kuat. Badan memang terkurung, namun siapa yang dapat membelenggu jiwa?

Nah, itu terbukti dalam karya besar Tan Malaka ini, yang ditulisnya tanpa dukungan kepustakaan apa pun saat ia mendekam di hotel prodeo Madiun sekitar tahun 1947-1948.

Membangun politik dan ekonomi yang merdeka, itulah tema dasar pustaka ini.

Benar, Tuan Malaka ingin Indonesia berdaulat sepenuhnya. Kata merdeka dimaknainya sebagai kebebasan penuh sebuah bangsa tanpa gerusan campur tangan asing mana pun serta lepas dari kepentingan pribadi siapa pun!

(more…)

MENCARI SUPRIYADI: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno

Mencari Supriyadi

Judul: Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno, plus VCD, 232 halaman.

Penulis: Baskara T. Wardaya, SJ.

Penerbit: Galangpress, Jogjakarta, 2008.

Review: Ada rangkaian misteri dalam sejarah nasional hingga hari ini:

Shodancho Supriyadi menghilang selepas memimpin pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar pada Februari, 1945.

– Yang aneh, saat pembentukan kabinet pertama pada 6 Oktober 1945, Bung Karno menunjuk bekas komandan pleton itu sebagai Menteri Keamanan Rakyat.

– Lantas, pada 20 Oktober 1945 Supriyadi kembali diberikan mandat selaku Panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Bagaimana mungkin seseorang yang tak diketahui rimbanya menduduki dua jabatan kunci di pemerintahan yang baru seumur jagung?

Nah, berdasarkan hasil investigasi penulis buku, coba kita lacak perkara ini, sodara-sodara!

(more…)

CANTING

Canting

Judul: Canting, 375 halaman.

Penulis: Arswendo Atmowiloto.

Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2013.

Review: Ndalem Ngabean Sestrokusuman tampak sunyi pagi itu. Tiada hiruk pikuk kuli-kuli batik. Tiga becak yang biasanya siap membawa sang majikan ke Pasar Klewer tak nampak sama sekali.

“… anak yang kamu kandung itu, saya tak tahu. Kalau nanti besar ia jadi buruh batik, maka memang darah buruhlah yang mengalir padanya, bukan darah Sestrokusuman.”

Betapa pun susah menangkap arti perkataan tersebut, yang diajak bicara mengingat semuanya dengan jelas, mulai dari titik koma hingga nada bicara pelantunnya.

Kala itu 18 Maret 1962.

(more…)

SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA

JpegJudul: Sepotong Bibir Paling Indah Indah di Dunia, Kumpulan Cerpen dan Prosa, 166 halaman.

Penulis: Agus Noor.

Penerbit: Bentang Pustaka, Jogjakarta, 2010.

Review: Masih ingat cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Sepotong Senja Untuk Pacarku?

Itu lho, tentang Sukab dan Alina.

“Alina tercinta. Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?” Begitu antara lain kutipan di dalamnya.

Lantas, apa hubungannya dengan buku ini?

(more…)

LAKI-LAKI YANG KAWIN DENGAN PERI

Judul: Laki-Laki yang Kawin dengan Peri, Cerpen Pilihan Kompas 1995, 148 halaman.

Penerbit: Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2016.

Review: Kumpulan cerita pendek ini tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Ada tujuh belas kisah yang siap dinikmati dan dijamin membawa kepuasan tersendiri bagi pembacanya.

Karya para jawara berderet dalam kompilasi ini. Ada buah pena Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Ratna Indraswari Ibrahim, Ahmad Tohari dan Seno Gumira Ajidarma. Tak ketinggalan, penulis idola yang fasih bercerita sisik melik kaum priyayi, Tuan Umar Kayam.

Kita intip, yuk!

(more…)

BIDADARI MENITI PELANGI — Kumpulan Cerpen

Bidadari Meniti Pelangi

Judul: Bidadari Meniti Pelangi — Kumpulan Cerpen, 170 halaman.

Penulis: S. Prasetyo Utomo.

Penerbit: Kompas, Jakarta, 2005.

Review: “Osnan, anak laki-laki delapan tahun itu, menjulurkan benang layang-layangnya, berhasrat menyentuh ujung lengkung pelangi, agar sampai ke negeri bidadari. Tetapi gulungan benangnya sudah habis. Dan layang-layang Osnan masih jauh dari ujung lengkung pelangi.

‘Mana, mana bidadari itu? Kenapa tak mau meniti pelangi?’ kata Osnan penuh harap.

Tapi bidadari cantik yang diharapkan Osnan tak nampak turun ke bumi. Yang didengarnya malah seruan ibunya. Osnan tak mau mendengar. Masih ditatapnya lengkung pelangi sampai ke ujung terjauh. Rambutnya basah kena rintik gerimis.

Malamnya Osnan meracau, tubuhnya sepanas bara, menggigil sampai bergemeretakan gigi-gigi dan gerahamnya…”

(more…)